Surat
Petrus ditujukan kepada orang-orang Kristen Israel yang saat itu sedang
tersebar di Asia Kecil (zaman sekarang dikenal dengan Negara Turki) dan tinggal
disana sebagai pendatang. Mereka tersebar di seluruh Asia Kecil (ay.1) dengan
berbagai alasan :
1.
Karena alasan keamanan
Saat itu gencar
terjadi penganiayaan terhadap orang Kristen, yang dilakukan oleh orang Yahudi
maupun orang Romawi. Karena itulah banyak orang Kristen dari sekitar Palestina
yang melarikan diri ke sekitar Asia Kecil dan tinggal disana.
2.
Karena alasan ekonomi
Asia Kecil merupakan
salah satu jalur perdagangan strategis pada saat itu, yang menghubungkan Eropa
dan Asia sehingga menjadi tempat yang baik untuk mencari penghidupan disana.
Pada
zaman modern ini, kita juga berada pada posisi yang sama dengan orang Kristen
Diaspora pada zaman Petrus, dimana kita hidup dalam dunia yang telah
terpengaruh dengan begitu macam hal yang bisa menyerang identitas kita sebagai
orang Kristen. Kemajuan teknologi setelah revolusi industri mengubah segalanya
: kemajuan teknologi, gadget, sosial media, aplikasi online, segala kemudahan-kemudahan hidup karena internet dsb
mengakibatkan adanya perubahan pola hidup dan pola pikir yang pada akhirnya
membuat identitas dan kita sebagai manusia mulia dan identitas kita sebagai
orang Kristen mulai tergerus. Selain itu, kesulitan hidup karena pemerintahan
yang buruk, karena peperangan dan penyebab-penyebab lainnya membuat manusia
kehilangan identitas dan nilai diri.
Manusia juga tidak
memiliki pegangan hidup dan kemampuan mempertahankan argumen karena telah diisi
oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif. Pemikiran-pemikiran yang
bersifat relatif pada akhirnya mulai masuk dalam ranah keimanan, sehingga
manusia mulai meragukan imannya sendiri, meragukan iman orang lain, dan pada
akhirnya berpindah keyakinan atau menjadi Atheis.
2.
Pada
zaman ini, manusia telah kehilangan nilai-nilai kehidupan,
sehingga merasa diri tidak berharga. Ini disebabkan karena manusia tidak
mengetahui berapa besar / berapa harga dari nilai dirinya. Akibatnya :
· Orang
tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga pada akhirnya dia
menjual diri. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui
berapa besar nilai dirinya, sehingga dia rela memprostitusikan diri / menjual
dirinya hanya dengan sejumlah uang.
· Orang
tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga dia merendahkan diri
dan berlaku tidak sopan hanya untuk menyenangkan hati orang lain dan menarik
perhatian orang lain. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak
mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia rela memakai pakaian yang
tidak sopan / terbuka di depan umum / di
dunia maya, bergaya / menari erotis di sosial media, memaki-maki hanya untuk
mendapat perhatian dsb.
· Orang
tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga dia bunuh diri. Tidak
memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai
dirinya, sehingga dia merasa tidak ada nilai / harga dan memilih lebih baik
mati.
· Orang
tidak lagi mengetahui seberapa bernilainya orang lain, sehingga dengan mudah
mereka menjual sesamanya. Tidak mengerti akan identitas diri membuat orang
tidak mengetahui berapa besar nilai diri orang lain, sehingga dengan mudah dia
menjual orang lain, memperkosa orang lain dan membunuh orang lain, aborsi dsb.
Kehilangan nilai
kehidupan membuat manusia tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan orang lain.
3.
Pada
zaman ini, kemajuan tekonlogi membuat manusia menjadi pragmatis.
Manusia mulai berpikir secara praktis sehingga tidak memaksimalkan pikiran dan
kemampuannya. Contoh paling nyata adalah dengan adanya kemajuan AI yang membuat
manusia tidak lagi menggunakan otak untuk berpikir, melainkan dengan praktis
cukup mengetikkan prompt yang akan
dengan mudah dikerjakan oleh AI (bahkan ada pendeta yang membuat khotbah dengan
menggunakan AI, bukan hasil perenungan sendiri) - Saya sendiri tidak anti AI
dan kemajuan teknologi. Namun jika hal-hal yang memerlukan otak sudah tidak
lagi kita kerjakan dengan otak, tetapi mencari cara praktis dengan memakai AI,
maka itu adalah bahaya besar bagi otak kita.
Hidup praktis memang
membawa kenikmatan tersendiri, namun hal ini membuat kita tidak lagi memiliki
ketajaman kemampuan, ketajaman berpikir dan ketajaman berkreasi. Manusia
menjadi kehilangan keahlian dan menjadi bodoh karena otak jarang dipakai
4.
Sosial
media membuat manusia hidup dalam kepalsuan, kehidupan
yang semu dan tidak sesuai realita. Sosial media menawarkan kenikmatan
tersendiri bagi banyak orang.
· Karena
sosial media, banyak orang yang merasa senang saat memiliki jumlah followers yang banyak, jumlah like yang
banyak dan komentar-komentar pujian yang banyak dalam postingannya. Ini adalah
hidup bahagia yang palsu karena : followers,
like dan komentar baik pada sosmed belum tentu asli keadaannya. Banyak followers bukan berarti banyak orang
yang menyukai kita; banyak like bukan
berarti banyak orang suka dan setuju kepada postingan kita; banyak komentar
pujian bukan berarti itu semua tulus. Bukankah sungguh menyedihkan jika kita
banyak memiliki followers tetapi di
dunia nyata kita tidak memiliki teman sama sekali? Bahkan terkadang banyak
orang yang menipu diri sendiri dangan membeli followers di toko-toko online
yang menyediakan hal seperti itu. Bukankah ini sungguh buruk? Fakta bahwa ada
orang yang menjual jasa penyedia followers
udah cukup untuk membuat kita mengerti, bagaimana dunia menggiring kita untuk
hidup dalam kepalsuan.
· Sosial
media membuat orang “terpaksa” harus memposting apa yang sebenarnya dia tidak
miliki hanya demi mendapat validasi dari orang lain. Saya pernah membaca suatu
informasi tentang jasa penyewaan Iphone, dimana mereka membuka jasa untuk
menyewakan Iphone model terbaru kepada orang-orang tertentu yang ingin
merasakan sensasi tampil di sosial media dengan menggunakan iphone namun tidak
punya cukup uang untuk membelinya. Herannya, bisnis ini berhasil karena banyak
orang Indonesia yang menggunakan jasa ini. Mereka menipu agar mendapat validasi
dari orang lain, dan ini menjadi kepuasan bagi mereka (jangan kaget, saya juga
pernah membaca bahwa ada jasa penyewaan pacar!)
· Sosial
media membuat orang terpaksa berbohong dengan memposting apa yang sebenarnya
dia tidak rasakan demi dunia tahu bahwa dia sedang merasakan kesempurnaan
hidup, tanpa problem kehidupan dan sedang baik-baik saja. Saya pernah melihat
suatu gambar hasil karya Mice Cartoon yang menggambarkan kondisi demikian.
Perhatikan gambar di bawah ini
Sumber : Mice Cartoon, KOMPAS Minggu 1 Juni 2014: Di Balik Keceriaan Selfie
Dari gambar ini kita akan
mengerti bahwa demi kepentingan media sosial, manusia rela menipu diri sendiri
dan orang lain. Manusia hidup dalam kebahagiaan semu, tidak sesuai realita yang
sedang dia alami.
· Sosial
media membuat orang terpaksa berbohong dengan berusaha sekuat tenaga untuk
mengubah kenyataan dalam dirinya agar dunia memuji dia. Banyak orang yang harus menipu dirinya
sendiri dengan memposting foto dirinya yang telah dilapisi berbagai macam filter bawaan sosmed untuk mempercantik
dirinya (memutihkan kulit, memuluskan wajah dsb). Banyak orang tidak berani
tampil apa adanya karena takut ditolak oleh dunia. Ini adalah tindakan menipu
diri sendiri dan orang lain, hanya demi mendapakan pujian dan itu membawa
kepuasan bagi dirinya sendiri
Menjadi manusia palsu memiliki banyak konsekuensi dan berbahaya, karena manusia akan melepas / membuang nilai yang paling penting dalam kehidupan, yaitu identitas diri.
Sebenarnya masih banyak lagi hal yang dapat menyerang identitas dan nilai diri kita sebagai orang Kristen. Untuk itulah nasihat Petrus kepada orang Kristen diaspora masih relevan sampai hari ini. Mengapa? Karena jika kita tidak mengenal siapa identitas diri kita, dan jika kita tidak tahu seberapa besar nilai diri kita, maka kita akan terpengaruh pada segala hal yang dipaparkan di atas. Kita tidak akan memiliki ciri khas sebagai orang Kristen, tidak kuat dalam iman dan keyakinan dan kita akan banyak menolerir hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Kristus, yang bertentangan dengan nilai diri kita sebagai umat pilihan Allah.
Sebagaimana orang Kristen
diaspora di Asia Kecil telah dinasihati Petrus, kita pun dinasihati agar kita
jangan sekali-kali melupakan bahkan kehilangan
identitas kita sebagai orang Kristen. Untuk bisa menjaga identitas kita,
terlebih dahulu kita harus tahu mengenai :
· Siapa
kita?
· Mengapa
kita bisa memiliki identitas dan nilai tersebut?
· Hal
apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut?
· Berapa
dilai diri kita?
Maka
jawabannya :
· Siapa kita?
Kita adalah orang berdosa yang tiada harganya, tiada nilainya karena
segala dosa kita, namun telah dipilih Allah untuk mendapatkan identitas
sebagai bangsa kepunyaan-Nya, umat pilihan-Nya sendiri
· Mengapa kita bisa memiliki
identitas dan nilai tersebut? Karena Allah telah
memilih kita bukan karena jasa dan kebaikan kita, melainkan hanya oleh
karena kasih karunia-Nya.
· Hal apa yang membuat kita bisa
memiliki identitas dan nilai diri tersebut? Yang membuat
kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut hanyalah penebusan
Yesus Kristus di atas kayu salib, dan pertolongan Roh Kudus yang menolong kita
sehingga bisa beriman kepada Yesus Kristus.
· Berapa nilai diri kita? Nilai diri kita senilai betapa mahalnya darah Yesus Kristus yang tak bercacat dan tak bercela, yang tak ternilai harganya, yang begitu mulia di hadapan Allah Bapa di Sorga.
Bagimana
kita menjaga identitas dan nilai diri kita sebagai umat Allah?
1.
Tinggal
dalam Kristus dan teguh beriman kepada-Nya. Jika kita
berada di luar Kristus, maka kita tidak bisa apa-apa
Yoh. 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Kita
tidak akan pernah kehilangan identitas kita jika kita berada dalam Kristus,
karena melalui Dialah kita memperoleh identitas tersebut.
Yoh. 1:12 Tetapi
semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,
yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
Gal. 3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
Gal. 4:5-7 : 5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6) Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.
Kita
juga harus teguh dalam iman kepada Kristus. Merujuk kepada apa yang dikatakan
oleh Francis Schaeffer : “I do what I
think, I think what I believe” – Aku melakukan apa yang aku pikirkan, dan
aku memikirkan apa yang aku percayai -. Apa yang kita lakukan bergantung apa
yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan bergantung kepada apa yang kita
percayai / Imani. Jika kita beriman
kepada Kristus, maka kita akan berpikir mengenai Kristus. Jika kita berpikir
mengenai Kristus, maka kita akan hidup berlaku sesuai Kristus.
2. Tetaplah hidup dalam kesadaran penuh, bahwa diri kita ini bernilai karena darah Kristus.
1 Pet. 1:18-19 : 18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, 19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
Jika kita hidup,
mengerti, mengimani dan menghayati akan hal ini, maka kita tidak akan pernah
membuang / melepaskan identitas kita sebagai umat pilihan Allah. Kita juga
tidak akan merendahkan nilai diri kita, karena kita sadar betapa mahalnya kita
di hadapan Allah : dibeli dengan darah Kristus yang mahal, yang tak bernoda
dan tak bercacat.
3.
Tetap
setia dan tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan,
karena dalam Alkitab sajalah kita dapat menemukan jawaban dari : siapa kita,
mengapa kita bisa bernilai, apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan
bernilai serta bagaimana kita menjaga identitas tersebut. Kita tidak akan
menemukannya di tempat lain, karena identitas kita berasal dari Allah dan hanya
melalui Firman Allah sajalah kita dapat mengetahui hal-hal yang dapat kita
lakukan untuk menjaga dan mempertahankan identitas kita sebagai orang Kristen. Firman
Tuhan juga dapat menolong kita agar tidak terpengaruh akan segala sesuatu yang
ditawarkan dunia ini, karena Firman Tuhan sajalah yang dapat memberikan
petunjuk kepada kita bagaimana kita menjalani hidup, berpikir, mengambil
keputusan dan bertindak sesuai kehendak Allah.
(Bukan hanya belajar
Firman Tuhan, tetapi hendaknya kita mempertajam
pikiran kita dengan belajar hal-hal yang menambah pengetahuan dan keahlian kita,
agar otak kita tidak menjadi busuk dan menjadi bodoh; sebaliknya otak kita
menjadi berkualitas; ada baiknya kita mengurangi screen time dengan membatasi penggunaan sosial media dan gadget agar otak kita terbiasa untuk belajar dan kita tidak
terjebak pada hal-hal pragmatis. Belajar sangat berguna bagi diri kita sendiri)
4.
Tekun
berdoa, karena dalam doa kita berbincang dan memiliki relasi
dengan Allah. Dalam doa, kita memohon
pada Roh Kudus untuk menolong kita menjaga dan mempertahankan identitas Kristen
kita. Dalam doa kita mendapatkan kekuatan untuk mempertahankan identitas
kita di tengan gempuran dunia yang begitu kuat. Dalam doa kita juga mendapatkan
kekuatan untuk tetap teguh hidup sesuai apa yang Tuhan kehendaki
5.
Tetaplah
berada dalam komunitas umat Tuhan (baca: tetaplah beribadah),
karena dalam ibadah dan dalam komunitas umat Tuhan yang sejati kita dapat
saling mendoakan, menguatkan, mengingatkan dan menasihati sesuai isi Alkitab.
Berada dalam komunitas umat Tuhan semakin menguatkan kita dan memperteguh
identitas kita karena kita tidak sendirian menghadapi gempuran dunia;
sebaliknya : kita bersama Tuhan dan sesama umat beriman menghadapi gempuran
dunia. Berada dalam komunitas umat Tuhan dan beribadah juga dapat menolong kita
untuk tidak terpengaruh kepada gaya hidup dunia yang jahat; sebaliknya dengan
menjadikan ibadah dan bersekutu sebagai cara hidup kita, maka kita akan
terluput dari gaya hidup yang jahat .
6.
Tetaplah
hidup dengan kesadaran penuh akan identitas kita sebagai umat Allah, jangan hidup
dalam kepalsuan identitas. Jika dunia menginginkan diri yang
indah / cantik /sempurna menurut ukuran dan standarnya, maka hiduplah sesuai
standar dan nilai-nilai Tuhan. Jangan menjadi sedih karena tidak
mendapatkan apresiasi dari dunia karena kita tidak hidup sesuai penilaian dan
standar dunia. Sebaliknya : berdukalah jika kita
tidak hidup sesuai standar dan penilaian Tuhan; berdukalah jika kita kehilangan
identitas kita sebagai umat Allah. Satu-satunya yang berhak menilai
diri, pribadi dan identitas kita adalah Tuhan. Hiduplah autentik, asli,
bernilai dan beridentitas.
Mengapa Allah mengaruniakan kepada kita identitas yang begitu berharga ini?
1. Supaya kita taat.
1 Pet. 1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.
Kita mendapatkan identitas ini bukan untuk menjadi liar dan bisa hidup seenaknya. Dengan adanya identitas sebagai bangsa pilihan Allah dan umat kepunyaan Allah, maka kita juga wajib taat kepada Allah sebagai Raja dan Tuhan kita. Lagipula kita harus sadar : hanya demi membuat kita layak menjadi bangsa pilihan dan umat kepunyaan Allah, Yesus Kristus harus taat sampai mati. Dengan demikian, apakah alasan kita untuk tidak taat dan menjadi melawan? Tidak ada.
2. Supaya kita menjadi saksi-Nya di dunia ini.
1 Pet. 2:9-10 : 9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib 10) kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
Kis. 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Kita mendapatkan identitas ini bukan untuk bersantai-santai dan malas-malasan. Sebagai bangsa pilihan Allah dan umat kepunyaan Allah, kita harus berguna bagi Kerajaan Allah itu sendiri : kita wajib menjadi saksi-saksi Kristus yang memberitakan Injil dan memberitakan kepada dunia pekerjaan-pekerjaan ajaib Tuhan yang telah membebaskan kita dari dosa dan maut. Semua pekerjaan yang berasal dari Kerajaan Allah adalah bagian kita dan kita wajib untuk mengerjakannya.
Untuk bisa mendapatkan identitas ini, Tuhan Yesus harus menderita bahkan taat sampai mati. Ini membuktikan betapa pentingnya identitas kita di mata Tuhan. Melihat fakta bahwa begitu mahalnya darah Tuhan Yesus yang tercurah, membuktikan bahwa begitu berharganya nilai diri kita di mata Tuhan. Renungkanlah bahwa Tuhan mau melakukan ini semua semata hanya karena Dia begitu mengasihi kita. Karena itu hendaklah kita merenungkan akan diri kita, keberadaan kita, nilai diri kita dan arti hidup kita. Jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa dirimu tidak berharga sehingga mau menjual diri atau mencoba bunuh diri, maka renungkanlah : walau dunia memandangmu rendah, tetapi di mata Tuhan nilai dirimu tiada taranya oleh karena engkau dibeli dengan darah Yesus yang mahal; Jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa penilaian dunia begitu berat sehingga engkau tidak sanggup memenuhinya, maka renungkanlah : walau dunia menilaimu begitu berat sehingga engkau terluka, Tuhan justru memulihkan identitasmu dan nilai dirimu sehingga berharga di mata-Nya dengan pengorbanan-Nya yang besar; jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa dunia menolakmu karena tidak sesuai dengan standarnya, maka renungkanlah : Tuhan menerimamu apa adanya dan mau memulihkanmu. Dia mengasihimu bukan karena engkau baik, tetapi sejak engkau masih kotor, berdosa dan berseteru dengan-Nya.
Hargailah pengorbanan Tuhan, hargailah anugerah Tuhan dalam diri kita. Miliki dan hiduplah sesuai identitas diri kita : bangsa yang terpilih, dikuduskan, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Jadilah bernilai dan berharga sesuai harga yang telah telah dibayarkan bagi kita : darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang tak bercacat.
Terpujilah
Allah Tritunggal!
Amin
(renungan ini saya kembangkan dari intisari khotbah Pdt. Sutjipto Subeno pada Mimbar Reformed Injili Indonesia di Kupang, Minggu 8 Maret 2026)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar