Sabtu, 27 Februari 2021

ULAR TEMBAGA (Bilangan 21:4-9)




Kasus ular tembaga terjadi saat  bangsa Israel sedang dalam pejalanan menuju Kanaan. Tuhan menghukum mereka dengan serangan ular tedung yang beracun karena mereka berdosa kepada-Nya, sehingga mereka mati bergelimpangan di gurun. Namun Tuhan memberi jalan keluar lewat ular tembaga untuk mengakhiri hukuman itu. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ular tebaga ini?

1.      PENYEBAB MEREKA DIHUKUM TUHAN

a.       Mereka menyimpan amarah kepada Tuhan

...bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan… (ay.4)

Rupanya, bangsa Israel telah menumpuk amarah kepada Tuhan. Memang, amarah itu mereka tujukan kepada Musa, namun itu diperhitungkan sebagai amarah kepada Tuhan karena Musa bertindak sesuai perintah dari Tuhan. Ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa jika menyimpan amarah terhadap hamba Tuhan entah karena apapun, apalagi jika kita marah karena tindakannya yang sesuai perintah Tuhan, maka amarah kita itu  diperhitungkan sebagai amarah kepada Tuhan.

b.      Mereka menghina berkat Tuhan, juga menghina Tuhan.

Bil. 21:5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak."

Dr. Decky Nggadas (Verbum Veritatis) : dan sekarang, hanya karena persoalan perut dan persoalan kerongkongan, mendadak mereka tidak bisa lagi melihat maksud baik Tuhan itu. Tuhan di mata mereka adalah Tuhan dengan rencana jahat, membawa mereka untuk disusahkan bahkan unti dimatikan; dan termasuk Musa, mereka tuduh sebagai kaki tangan Tuhan yang punya maksud jahat itu untuk membawa mereka ke padang gurun untuk menyusahkan dan mematikan mereka. Betapa mengerikan dan betapa seriusnya isi pemberontakan itu.

Amarah yang terpendam dalam hati mereka akhirnya berbuah menjadi kata-kata yang melawan Allah, dan berlanjut kepada penghinaan terhadap berkat-berkat-Nya. Perhatikan isi amarah mereka ini. Awalnya mereka marah kepada Tuhan karena membawa mereka keluar dari Mesir. Padahal dulu waktu di Mesir, mereka berseru kepada Tuhan karena begitu hebatnya mereka ditindas.

 

Kel. 3:7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

 

Mereka seolah lupa penderitan mereka di Mesir, sehingga kebebasan yang mereka terima secara ajaib dari Tuhan, dianggap sebagai sesuatu yang membuat mereka menderita. Sikap tidak tahu berterimakasih membuat mereka mempertanyakan pekerjaan Tuhan, dan membuat mereka lupa akan raungan penderitaan mereka di tanah perbudakan.

Selanjutnya, mereka menghina berkat Tuhan dengan cara tidak menganggap ada berkat Tuhan yang mereka terima itu. Perhatikan kata-kata mereka saat mereka berkata “…Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.". Benarkah tidak ada roti dalam perbekalan mereka? Bukankah Tuhan memberikan mereka Manna dari langit? Namun karena kebencian dan tidak menganggap berkat Tuhan, mereka menghina manna dengan cara tidak menganggap manna itu sebagai roti / makanan. Selanjutnya, mereka menghina manna dari Tuhan sebagai makanan hambar, padahal kita tahu, mana itu memiliki rasa seperti madu (bdk. Kel.16:31). Saking bencinya kepada berkat Tuhan, mereka mengeluarkan hinaan kepada berkat itu.

 

Entah berapa kali dalam hidup ini kita menghina berkat Tuhan. Berapa kali kita mengeluh karena makanan yang disajikan orangtua kita di rumah tidak sesuai selera kita? Sedangkan banyak orang di luar sana yang susah makan. Berapa kali kita mengeluh karena belum punya HP keluaran terbaru untuk bisa bermain game? Sedangkan banyak orang di luar sana yang untuk sekolah online saja mereka kesulitan karena tidak punya HP. Berapa kali kita mengeluh tidak bisa membeli baju baru? Sedangkan banyak orang di luar sana yang memakai baju penuh tambalan saja mereka sudah bersyukur, yang penting bisa menutup badan mereka. Berapa kali kita mengeluh harus berjalan kaki untuk kesini atau kesana karena belum dibelikan kendaraan oleh orangtua atau karena belum punya uang untuk membeli kendaraan, sedangkan banyak orang di luar sana yang ingin berjalan dengan kaki mereka sendiri namun tak dapat, karena mereka lumpuh.

 

Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, dan belajarlah untuk mencukupkan diri dengan berkat yang sudah Tuhan beri. Jika kita mampu bersyukur dan mencukupkan diri, maka kita tidak akan pernah mengeluh atas segala yang kita miliki. Akar dari menghina berkat Tuhan adalah mengeluh atas berkat itu sendiri. Saat seseorang mulai mengeluh, maka dia akan selalu merasa kurang, padahal segala sesuatu cukup baginya. Saat dia selalu merasa kurang, maka dia akan merasa bahwa Tuhan tidak memberkatinya. Saat maka dia merasa bahwa Tuhan tidak memberkatinya, maka dia akan mulai marah kepada Tuhan, dan mempertanyakan kehadiran Tuhan, apakah Tuhan itu ada atau tidak. Bangsa Israel telah melihat banyak keajaiban dari Tuhan, namun mereka tetap mempertanyakan kehadiran Tuhan di tengah mereka.

 

Kel. 17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

 

Hendaklah kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya, dan belajar mencukupkan diri dengan itu semua agar hidup kita selalu dapat menikmati berkat Tuhan dan tidak pernah merasa kekurangan.

2.      AKIBAT DOSA ADALAH HUKUMAN

Akibat dosa mereka, Tuhan menghukum mereka dengan menyuruh ular tedung yang beracun untuk mengigit mereka sehingga banyak dari mereka yang mati (ay. 6). Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa dan Dia membenci dosa itu, sehingga Dia memberi hukuman kepada mereka. Allah memang penuh kasih, namun Dia juga penuh keadilan. Jika dalam sepanjang hidup ada orang yang selalu melakukan dosa dan tidak pernah merasa dihukum dan berkata dalam hatinya “aku hidup tanpa Tuhan, aku melakukan ini itu sesuai kehendak hatiku, namun aku masih baik-baik saja sampai saat ini..”, maka jangan kira Tuhan tidak menghukumnya. Kapan Tuhan mau menghukum, itu adalah waktu Tuhan. Bisa saja Dia langsung menghukum saat itu juga seperti yang Dia lakukan pada bangsa Israel, bisa juga Dia membiarkan mereka terus menikmati dosa dan Dia menghukum mereka pada saat mereka sudah mati, yaitu dalam neraka yang kekal. Cepat atau lambat waktunya, segala perbuatan dosa pasti akan menerima hukuman.

 

Kita juga dapat melihat, bahwa bangsa Israel menjadi jera dan karena dosa mereka, dan mereka meminta Musa berdoa agar Tuhan mengasihani mereka. Kita dapat belajar bahwa saat jatuh dalam dosa, janganlah tunggu terkena hukuman baru mau bertobat. Saat jatuh dalam dosa, hendaklah kita sadar dan langsung meminta ampun kepada Tuhan, agar Dia mengampuni kita dari dosa kita. Selagi masih ada kesempatan, segera berbalik kepada Tuhan dan memohon ampunan, sebelum itu terlambat. Jika hukuman itu hanya membuat kita jera, masih ada kesempatan untuk bertobat, namun jika hukuman itu langsung membawa kematian, maka binasalah sudah!

 

3.      IMAN DAN KETAATAN YANG MENYELAMATKAN; ULAR TEMBAGA GAMBARAN KRISTUS SEBAGAI JALAN KESELAMATAN

Musa mendoakan mereka, dan Tuhan memerintahkan Musa membuat ular dari tembaga yang Tuhan pakai sebagai sarana untuk menyembuhkan mereka.

Bil. 21:8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."

Bil. 21:9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

 

Agar menjadi sembuh, diperlukan iman dan ketaatan dari bangsa Israel. Mereka harus beriman bahwa dengan melihat ular tembaga itu mereka akan selamat, dan iman itu membuat mereka taat untuk melihat ular itu sehingga mereka yang melakukannya pasti selamat. Jika mereka tidak beriman, maka pastilah mereka tidak akan melihat ular itu, dan jika tidak melihat ular itu, mereka pasti binasa.

Ular tembaga ini menjadi gambaran dari Tuhan Yesus, yang menjadi satu-satunya jalan keselamatan bagi kita. Jika kita beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka kita akan diselamatkan.

Yoh. 3:14-15 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

 

Yoh. 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

 

Kis. 16:31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

 

Jika bangsa Israel hanya bisa selamat jika melihat pada ular tedung, maka manusia juga hanya bisa selamat jika melihat, percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus. Tidak ada jalan lain selain melalui Tuhan Yesus.

 

 Itulah sedikit perenungan dari kisah ular tembaga, biarlah oleh tuntunan Roh Kudus kita dapat selalu bersyukur dan mencukupi diri atas segala berkat Tuhan, selalu mau mengakui dosa kita di hadapan Tuhan selagi masih ada waktu dan kesempatan, dan beriman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup kita. Kiranya kasih Tuhan selalu menyertai kita.

 

AMIN

YANG TERPENTING DALAM HIDUP (LUKAS 10:38-42)


Dua orang bersaudara, Maria dan Marta

Yesus datang menumpang diri di rumah mereka

Maria duduk di kaki Yesus, Marta sibuk melayani

O Marta e, o Marta e, o sio Marta e…

Begitulah penggalan lirik dari sebuah lagu sekolah Minggu. Lagu pendek dan sederhana ini menceritakan tentang dua orang wanita kakak beradik yang cukup dekat dengan Tuhan Yesus (mereka juga memiliki seorang saudara laki-laki bernama Lazarus). Dalam suatu perjalanan pelayanan, Tuhan Yesus singgah di rumah mereka. Kedatangan seorang Rabi yang terkenal dan dihormati, tentu membuat Marta sibuk menyiapkan ini dan itu untuk melayani Tuhan Yesus dan para murid, sedangkan Maria duduk di bawah kaki Tuhan Yesus untuk mendengarkan-Nya mengajar. Bekerja sendirian mungkin membuat Marta capek, ditambah dia melihat saudaranya Maria “hanya duduk-duduk saja” dan tidak membantu dia. Ini membuat Marta kelihatannya gusar dan menyuruh Tuhan Yesus untuk menegur Maria supaya membantunya (ay.40). Alih-alih menegur Maria, Tuhan Yesus justru membela Maria dan menegur Marta, serta menganggap perbuatan Maria jauh lebih penting dari apa yang dilakukan Marta (ay.41-42).

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita singkat ini?

Apa yang dilakukan oleh Marta tidaklah salah. Marta sibuk di dapur untuk melayani Tuhan Yesus dan murid-murid sebagai tamu, sebab mungkin Marta kuatir Tuhan Yesus dan para murid letih selepas perjalanan, kelaparan dan kehausan sehingga dia lekas-lekas menyiapkan ini dan itu. Ini adalah tanda kasih, kepedulian dan penghormatan Marta kepada Tuhan Yesus. Ini adalah perbuatan wajar dan baik. Namun, perbuatan Marta menjadi salah di mata Tuhan Yesus karena itu menjadi penghambat bagi dia untuk melakukan hal yang penting : mendengarkan Firman Tuhan.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Tidak salah bagi kita untuk bekerja mencari nafkah yang halal. Tidak salah bagi kita untuk rajin belajar, mengerjakan tugas / PR supaya menjadi anak yang pandai mendapat nilai baik dan memuaskan di kampus / sekolah. Tidak salah bagi kita untuk berkumpul bersama keluarga / teman-teman sebagai bentuk silaturahmi. Tidak salah bagi kita untuk keluar refreshing, membaca novel / komik, bermain game, bermain sosmed, menonton TV / film, mendengarkan lagu untuk menyegarkan otak. dsb.  Yang salah adalah saat hal-hal itu menjadi hambatan bagi kita untuk melakukan apa yang penting :  mendengarkan / membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Terkadang orang sibuk bekerja mencari uang, mengerjakan tugas sekolah / kampus, belajar, berkumpul dengan teman, refreshing (dalam rupa apa saja) dll. sampai lupa Gereja, lupa beribadah, lupa menyiapkan waktu untuk merenungkan Firman Tuhan. Ingatlah bahwa hal yang terpenting adalah : saat-saat intim yang dibangun bersama Tuhan lewat perenungan Firman Tuhan dan dalam doa, entah secara pribadi /  berkelompok.

Dalam seminggu ada 7 hari, dan Tuhan menetapkan 1 hari untuk kita beribadah kepada-Nya. Dalam sehari ada 24 jam, ada 1 atau 2 jam kita siapkan untuk bersekutu dengan Tuhan secara khusus. Jangan mencuri waktu-waktu itu dengan segala macam kesibukan kita, tetapi biarlah itu menjadi waktu khusus untuk kita mendengar suara-Nya serta merenungkannya dalam hidup kita. Marilah kita memilih bagian yang terbaik dan terpenting seperti apa yang sudah dilakukan Maria, yaitu duduk di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan suara-Nya.

AMIN

 

Matius 6:33 :  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

UNTUK APA TAAT? (SEBUAH PERENUNGAN MENGENAI FOKUS KETAATAN IMAN KRISTEN)


Pernah saya menemukan suatu postingan di media sosial yang berkata bahwa orang-orang beragama percaya kepada Tuhan hanya agar dapat masuk Sorga. Orang-orang beragama hidup saleh karena takut masuk neraka. Jadi menurut orang itu (dan mungkin ada banyak orang berpikiran demikian – bahkan orang beragama Kristen sekalipun), fokus dari kesalehan orang beragama bukanlah karena Tuhan itu sendiri, melainkan berfokus hanya kepada supaya masuk Sorga dan supaya tidak dimasukkan ke dalam Neraka. Benarkah demikian?

Saya tidak tahu bagaimana agama lain memandang hal ini. Tetapi tidak demikian dengan iman Kristen. Apakah dalam iman Kristen, fokus ketaatan hanyalah mengenai masuk Sorga dan tidak masuk neraka? Tidak. Pertama, marilah kita mengerti terlebih dahulu, bahwa dalam iman Kristen, keselamatan manusia bukan ditentukan saat seseorang sudah mati dan dinilai melalui kesalehan atau kejahatan dalam hidupnya., melainkan sudah ditentukan sebelum dunia dijadikan. Begitu pula dengan binasanya seseorang. Tuhan telah menentukan siapa yang akan selamat dan siapa yang akan binasa, bahkan sebelum dunia dijadikan. Perhatikan ayat-ayat ini, bagian yang saya beri huruf tebal.

Yoh. 17:12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

 Kis. 13:48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Rom. 8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Rom. 8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Ef. 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Ef. 1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

Yud. 1:4 Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Wah. 13:8 Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.

Wah. 17:8 Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi.

Allah dalam hikmat-Nya, dalam kedaulatan-Nya, dalam kerelaan hati-Nya dan dalam kasih karunia dan anugerah-Nya telah memilih Si-A untuk menerima keselamatan tanpa menuntut syarat apa-apa dari Si-A (Poin “U” dari T.U.L.I.P. John Calvin : Unconditional Election – Pemilihan tanpa syarat). Begitu juga dalam semuanya itu, Allah tidak memilih Si-B untuk menerima keselamatan itu.

Lalu dalam Tuhan Yesus, Allah mengerjakan keselamatan itu lewat kematian Yesus di atas kayu salib untuk membayar hutang dosa sehingga syarat untuk selamat sudah terpenuhi. Penebusan ini berlaku bagi Si-A karena dia sudah dipilih Allah, dan tidak berlaku untuk Si-B karena tidak dipilih Allah.

Lalu dalam Roh Kudus, Allah bekerja me-lahir baru-kan Si-A, lalu dikaruniakan Firman, di tolong Roh Kudus untuk mengerti, dikaruniakan iman kepada Yesus sebagai syarat keselamatan, dan Roh Kudus  menolong Si-A untuk menerima, percaya dan maenjaga iman itu. Si-A tidak akan pernah hilang / murtad, dan tidak akan pernah melepaskan imannya. Semua hal di atas tidak dikaruniakan kepada Si-B. Si-B mungkin pernah mendengarkan firman Tuhan diberitakan, mendengarkan tentang Yesus, melihat keajaiban pekerjaan Tuhan yang ajaib, namun dia tidak akan menerima dan percaya akan itu semua. (contoh : orang Israel di padang gurun, Raja Saul, Yudas Iskariot)

 

Jika kita mengerti (dan mau menerima) penjelasan di atas, maka kita akan sadar bahwa :

1.   Dalam iman Kristen, keselamatan bukan dicari, melainkan diberi / dianugerahkan / dikaruniakan secara cuma-cuma. Keselamatan bukan hasil usaha, namun karena pemberian Allah (Ef.2:8)

2.   Orang bisa menerima dan percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat jika dia telah dipilih dan ditentukan untuk itu. Jika tidak, dia tidak akan bisa menerima dan percaya.

3.   Dalam mendapat keselamatan, manusia tidak ada andil apa-apa. Semua 100% andil Tuhan.

4.   Pemilihan yang Allah lakukan tidak berdasarkan syarat apa-apa, melainkan berdasarkan kerelaan hati-Nya (Ef.1:5), berdasarkan hikmat dan keputusan-Nya yang tidak akan pernah dimengerti oleh manusia (Rom.11:33).

Jika demikian, jika orang yang telah dipilih tidak usah berbuat baik / taat kepada Tuhan untuk mendapat keselamatan karena keselamatan sudah dianugerahkan, dikerjakan dan dijaga oleh Tuhan, untuk apa menaati kehendak Tuhan? Bukankah sudah selamat?

Jawabannya : orang Kristen sejati (orang yang telah dipilih untuk selamat) melakukan kehendak Tuhan sebagai UCAPAN SYUKUR karena telah diselamatkan, dan karena MENCINTAI ALLAH. Orang Kristen sejati tidak lagi mencari keselamatan (masuk Sorga) dan tidak lagi takut binasa (masuk Neraka) karena SUDAH ADA KEPASTIAN KESELAMATAN. Ini membuat kesalehan dan ketaatan orang Kristen sejati tetap terfokus pada Tuhan. Jadi dalam iman Kristen dan bagi orang Kristen sejati, tidak ada lagi melakukan kehendak Tuhan supaya selamat, tetapi fokusnya adalah : sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, dan karena mencintai Tuhan.   

Jadi sekali lagi : FOKUSNYA ADALAH TUHAN. Tidak ada alasan untuk mengatakan Orang Kristen sejati taat karena harap Sorga dan takut neraka. Ucapan syukur dan rasa cinta yang besar akan terus dinaikkan dan diberikan oleh kita orang Kristen sejati sepanjang zaman kepada Tuhan, karena dalam ke- tidak layak-kan sebagai orang berdosa, Tuhan yang dalam hikmat,  kedaulatan, kerelaan hati, kasih karunia dan anugerah-Nya, tanpa syarat mau memilih dan melayakkan kita untuk menerima karya keselamatan yang sempurna itu. Bagi iman Kristen, taat bukan untuk selamat, tetapi karena sudah selamat. Syukur kepada Allah Tritunggal!

 

- AMIN -

    

PERJALANAN KE EMAUS (LUKAS 24 : 13 – 35)

 

Setelah kebangkitan-Nya pada Minggu pagi, Yesus beberapa kali menampakkan diri kepada murid-murid dan para pengikut-Nya. Diantara penampakkan-penampakkan itu, salah satunya adalah penampakkan kepada dua orang murid yang sedang berjalan ke kampung Emaus. Data dari kedua murid ini sangatlah sedikit, selain dari data mengenai nama salah seorang murid itu yaitu Kleopas (ay.18). Demikianlah Lukas mencatat kisah penampakkan ini, selain sebagai bukti bahwa Yesus sudah bangkit dari antara orang mati, ada juga beberapa hal yang dapat kita lihat dan pelajari bersama dari kisah ini.

1.      Kedua murid ini meninggalkan persekutuan dengan murid-murid yang lain. Saat Yesus masih ada, mereka selalu bersama dengan para murid yang lain. Tetapi setelah kematian Yesus, mungkinkah mereka merasa bahwa semuanya sudah usai? Sepertinya kedua murid ini lupa bahwa Yesus pernah berjanji, bahwa Dia akan bangkit dari kematian (Mat.16:21), dan memutuskan untuk pulang kampung. Sepertinya mereka kecewa karena Yesus yang mereka ikuti selama ini tidak sesuai dengan harapan mereka (akan dijelaskan pada poin selanjutnya).

Meninggalkan persekutuan dengan umat Tuhan yang lain, adalah hal yang berbahaya, karena itulah saat yang tepat bagi iblis untuk menangkap dan membinasakan mereka. Dalam persekutuan dengan umat Tuhan, kita dapat saling dikuatkan dan menguatkan satu sama lain dalam doa, nasihat dan pengajaran Firman Tuhan. Janganlah sekali-kali kita mencoba menghindari dan menjauhi perkumpulan dengan umat Tuhan yang lain, baik dalam Gereja, peribadatan dsb (asalkan itu perkumpulan yang benar, buka sesat!) dimana dalam perkumpulan itu kita mengenal Tuhan, membicarakan tentang Tuhan serta  semakin didekatkan dengan Tuhan (bdk. Ibrani 10:25).

2.      Tuhan tidak meninggalkan mereka terhilang, tetapi Tuhan mencari dan menyelamatkan mereka. Jika mereka tidak diselamatkan, mungkin mereka akan kembali ke kehidupan mereka yang lama, dan mereka akan lupa siapa Yesus, mereka akan lupa akan segala yang terjadi dalam hidup mereka bersama Yesus. Tetapi bersyukur pada Tuhan, bahwa dalam perjalanan pulang, mereka “ditangkap” kembali oleh Tuhan. Dalam perjalanan ke Emaus, Yesus menampakkan diri dan berbincang-bincang dengan mereka, hingga akhirnya mereka disadarkan bahwa semuanya belum usai. Ini adalah suatu anugrah besar bagi Kleopas dan temannya karena oleh anugerah, Tuhan bekerja untuk menemukan mereka.

Tepat 22 Desember 2018, ayah saya dipanggil Tuhan kembali ke pangkuan-Nya. Sebelum pergi, ayah saya menderita dengan sakit yang cukup berat bertubi-tubi mendera tubuhnya. Saya, sebagai seorang anak yang mengasihi ayah saya, dan juga sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, tak henti-hentinya memohon kesembuhan dari Tuhan bagi ayah saya. Namun, Tuhan berkata lain, dimana Dia akhirnya memanggil ayah saya. Kecewa? Tentu. Saya membenci Tuhan, saya berkata dalam hati bahwa percuma saya berdoa. Jika orang lain sembuh, mengapa ayah saya tidak? Bukankah ayah saya adalah orang yang mengasihi Tuhan seumur hidupnya? Dimana letak keadilah Tuhan? Namun saya bersyukur pada Tuhan, karena Dia tidak membiarkan saya terhilang. Dengan kuasa Roh Kudus, saya disadarkan bahwa ayah saya sudah ada ditempat yang lebih baik dan tidak lagi menderita. Dengan pengertian-pengertian yang benar, Tuhan menunjukkan maksud-Nya bagi ayah saya, bagi keluarga dan bagi saya sendiri. Saya memohon ampun sejadi-jadinya, karena pernah kecewa terhadap Tuhan, pernah marah terhadap Tuhan, dan pernah memutuskan untuk berhenti percaya. Saya bersyukur, Tuhan mencari dan mendapatkan saya kembali, serta memulihkan keadaan saya. Semua karena anugerah-Nya.

3.      Mereka mengenal Yesus dengan cara yang salah, dan kecewa karena Yesus yang mereka kenal tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Mereka mengenal Yesus sebagai Sang pembebas yang akan membebaskan bangsa Israel dari jajahan Romawi (ay21). Ini adalah tradisi Yahudi mengenai Mesias saat itu, dan mereka memegang kepercayaan itu. Pada akhirnya, mereka kecewa karena bukannya memimpin perang melawan Romawi, Yesus malah mati ditangan para prajurit Romawi. Mungkin ini menjadi salah 1 faktor mereka meninggalkan perkumpulan yang Yesus sudah bentuk, karena mereka kecewa kepada Yesus.

Ada berapa banyak orang yang kecewa pada Yesus dan meninggalkan Dia karena salah mengenal Dia? Ada yang hanya mengenal Yesus sebagai tabib yang agung, dan saat penyakit mereka tak kunjung sembuh padahal sudah berdoa, mereka kecewa dan meninggalkan Yesus. Ada yang hanya mengenal Yesus sebagai penjawab doa, dan saat doa-doa mereka tidak dijawab Tuhan,  mereka kecewa dan meninggalkan Yesus. Ada yang hanya mengenal Yesus sebagai pembawa kemakmuran / kekayaan, dan saat mereka tak kunjung menjadi kaya padahal sudah berdoa, mereka kecewa dan meninggalkan Yesus. Mereka tidak mau menerima Yesus yang sengsara, mereka tidak mau sadar dan menerima bahwa Yesus sudah mati dan menebus dosa mereka. Mereka hanya mau mengenal Yesus yang memberi kenyamanan, kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Sungguh, salah mengenal Yesus adalah sesuatu yang sangat  berbahaya dan bisa berakibat fatal bagi hidup kita. Bagaimana caranya agar kita tidak salah mengenal Dia? Kita harus rajin untuk membaca, belajar dan merenungkan Firman-Nya, karena dari situlah kita dapat mengenal Dia dengan benar. Jangan pernah salah mengenal Yesus.

4.      Tuhan bukan hanya mencari mereka, tetapi juga memberi pengertian yang benar kepada mereka (ay.25-27). Inilah Sang Guru yang baik, yang dengan kasih membuka otak mereka dan mengingatkan kembali kepada apa yang sudah Dia ajarkan kepada mereka. Yesus tidak hanya mencari mereka, tetapi menggunakan kesempatan itu untuk memberitakan Firman Tuhan, dan Firman itulah yang menghancurkan kerasnya otak mereka dan menyadarkan mereka tentang kebenaran bahwa Yesus sudah bangkit. Sebenarnya, mereka sudah mendengarkan kabar bahwa Yesus sudah bangkit. Ini nyata dari kesaksian mereka (ay.22-24), namun mereka nampaknya tidak peduli dan tidak mau percaya, sehingga Tuhan mengatakan mereka sebagai orang bodoh (ay.25).

Pernahkah kita mengeraskan hati terhadap kesaksian orang lain tentang Tuhan? Pernahkan kita mengeraskan hati terhadap kebenaran Firman yang disampaikan kepada kita? Jika pernah, marilah kita memohon ampun, dan memberi diri untuk diajar oleh Tuhan lewat pembelajaran dan perenungan Firman Tuhan, serta mau mendengar pemberitaan Firman Tuhan yang diberitakan oleh para hamba Tuhan. Jangan mengeraskan hati, karena sesungguhnya dari Firman itulah, otak kita yang bodoh dipulihkan, hati kita yang keras dibentuk menjadi menjadi hati yang mau menerima Firman Tuhan, dan menjadi tempat dimana Firman itu tumbuh dan menghaslkan buah-buah untuk kemuliaan nama Tuhan.

5.      Mengajak Tuhan masuk ke dalam rumah, menjadi awal dari kesadaran mereka tentang kehadiran Yesus dalam perjalanan mereka. Saat mereka mengajak Dia masuk ke dalam rumah mereka dan makan bersama, mereka akhirnya sadar bahwa yang berjalan bersama mereka dari tadi adalah Yesus. Kesadaran ini  semakin meneguhkan hati mereka bahwa Yesus telah hidup dan menampakkan diri kepada mereka, menguatkan iman mereka serta memulihkan keadaaan mereka yang lesu dan sedih karena kecewa.

Jika mereka yang dengan tidak sadar mengajak Yesus masuk dalam rumah mereka, menerima peneguhan hati, iman dan kepercayaan serta dipulihkan, bagaimana pula dengan kita yang dengan segenap hati, penuh kesadaran mengajak dan menerima Yesus dama hati, kehidupan dan keluarga kita? Jika kita menerima Dia, maka kita, keluarga kita, kehidupan kita, iman kita akan dipulihkan dan dikuatkan oleh-Nya. Jika kita mendengar Dia sedang mengetok pintu hati kita, bukankah sudah seharusnya kita membuka pintu dan menerima Dia masuk? (Wahyu 3:20)

6.      Mereka berdua turut menjadi saksi dan mau bersaksi tentang kebangkitan Yesus. Inilah perubahan besar dari dua orang murid yang tadinya berniat mundur dari perkumpulan anak Tuhan, setelah mereka dicari dan diselamatkan Tuhan. Jarak dari Emaus ke Yerusalam adalah 7 Mil atau 11 KM. Namun jarak bukanlah soal bagi mereka, karena memberitakan kebangkitan Yesus adalah hal yang lebih penting daripada memikirkan jarak yang jauh itu. Total perjalanan mereka hari itu adalah kira-kira 22 KM (Yerusalem - Emaus - Yerusalem), namun kaki yang letih tidaklah menjadi halangan bagi mereka untuk kembali ke Yerusalem untuk memberitakan kisah penampakkan Yesus ini.

Apakah yang menghalangi kita untuk menjadi saksi-Nya? Waktu? Pekerjaan? Kesibukan? Jangan biarkan itu semua menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi saksi-Nya, untuk bersaksi tentang kasih-Nya dan karya penebusan-Nya. Jika kita merasa bahwa hanya oleh karena anugerah dan belas kasihan Tuhan sajalah kita diselamatkan, maka sesungguhnya hal-hal di atas tidak akan pernah menjadi penghalang bagi kita untuk bersaksi. Seperti  kedua murid dari Emaus, marilah kita berlari dengan semangat berkobar untuk mengabarkan injil-Nya, untuk  menjadi sakksi-Nya sesuai kapasitas yang telah Tuhan tetapkan dalam hidup kita. Lakukanlah itu sebagai tanda ucapan syukur, karena kita sudah menerima kasih karunia, belas kasihan, penebusan, penyelamatan dan segala yang baik dari Tuhan baik secara rohani maupun jasmani.

            Kita pernah terhilang, namun Tuhan mencari dan mendapatkan kita. Kita diajar-Nya segala firman-nya, kita menerima segala yang baik daripada-Nya. Dia mati bagi kita, dan Dia ingin kita hidup bagi-Nya. Dia mau kita menjadi saksi-Nya. Jika Kleopas dan temannya mau berjalan 11 KM untuk kembali ke Yerusalem demi memberitakan kebangkitan Yesus, mengapa kita tidak lebih dari itu?

-- AMIN --

MENENDANG KE GALAH RANGSANG (KIS. 26:14)

 


Kis.26:14 Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.

Kalimat dalam ayat di atas terdapat dalam kesaksian Rasul Paulus di hadapan Raja Agripa (Kis.26), dimana dia menceritakan kisah tentang pertobatannya saat dalam perjalanan ke Damsyik (Bdk. Kis.9:1-19a). Dalam kisah yang dituturkan oleh Paulus, muncul kalimat “menendang ke galah rangsang”. Apa maksud dari kalimat ini?

Sebelum merenungkan ayat ini, kita harus terlebih dahulu mengerti maksud dari kalimat tersebut. Untuk itu, mari perhatikan terjemahan-terjemahan dari Kis.26:14 berikut :

JENIS TERJEMAHAN ALKITAB

TERJEMAHAN

Terjemahan Baru (TB)

… Menendang ke galah rangsang

Terjemahan Lama (TL)

… Menendang kosa*

Firman Allah Yang Hidup (FAYH)

… Menyakiti diri sendiri

King James Version (KJV)

… Kick against the pricks (Menendang tusukan)

American Standard Version (ASV)

… Kick against the goad (goad  : menghalau / penghalau)**

* Kosa: tongkat yang ujungnya diberi besi berkait (untuk mengemudikan gajah) - KBBI

** Goad : menghalau / penghalau. Apa maksudnya?

Mari perhatikan Hakim-hakim 3:31

Hak.3:31. (TB) Sesudah dia, bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. Demikianlah ia juga menyelamatkan orang Israel.

 KJV: And after him was Shamgar the son of Anath, which slew of the Philistines six hundred men with an ox goad: and he also delivered Israel.

Kata dalam bahasa Inggris yang digunakan dalam Hak.3:31, sama dengan yang digunakan dalam Kis.26:14, yaitu GOAD / OX GOAD : Penghalau / Tongkat penghalau lembu.

Dari macam-macam terjemahan di atas, kita dapat mengetahui bahwa galah rangsang adalah suatu tongkat yang berujung tajam yang dapat menusuk. Galah rangsang / tongkat pengahalau biasa digunakan oleh orang-orang pada zaman itu untuk mengendalikan hewan (lembu, gajah).


ilustrasi tongkat penghalau lembu

Saat lembu membajak atau dikendarai, orang akan mengendalikannya dengan galah rangsang dengan cara menusuk lembu itu supaya dapat diatur. Karena benda ini bebentuk tombak, maka benda ini juga digunakan oleh Samgar untuk membunuh 600 orang Filistin saat dia membebaskan orang Israel dari serangan Bangsa Filistin (Hak. 3:31).

Lalu, apa maksud dari “menendang ke galah rangsang” ? Dalam suatu pertandingan Kick Boxing atau dalam suatu perkelahian, tujuan dari menendang lawan tanding adalah supaya lawan merasa sakit dan dapat dikalahkan. Tetapi saat seseorang menendang galah rangsang, yang merasa sakit bukanlah galah rangsang tersebut, melainkan kaki /  diri orang tersebut. Jadi, “menendang ke galah rangsang” adalah suatu kalimat yang berarti melakukan sesuatu yang menyakiti diri sendiri, melakukan sesuatu yang sia-sia, melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.

Apa yang dapat kita renungkan dari kisah Paulus ini? Tuhan Yesus mau mengatakan kepada Paulus (dan juga kepada kita semua) adalah jika kita memberontak terhadap Dia, jika kita terus melawan Dia, jika kita terus menolak Dia, maka kita sedang menyakiti diri kita sendiri, kita sedang melukai diri kita sendiri, kita sedang menyengsarakan diri kita sendiri, kita sedang membinasakan diri kita sendiri. Jika kita menolak saat Dia memanggil kita untuk bertobat, jika kita terus saja melawan Dia dengan terus melakukan dosa, maka kita menyakiti diri kita sendiri dan membiarkan diri kita menuju kebinasaan. Saat kita menolak, melawan, memberontak terhadap Tuhan Yesus, maka yang rugi bukanlah Tuhan Yesus, melainkan diri kita sendiri, sama seperti menendang galah rangsang, yang merasa sakit dan terluka bukanlah galah rangsang itu, melainkan kita yang sakit, kita yang terluka.

Bukalah telinga kita kepada panggilan Tuhan selama masih diberi waktu dan kesempatan. Jangan sampai kita terlambat dan masuk dalam kebinasaan. Ingat, semakin kita menendang, semakin kita kesakitan. Semakin kita melawan Tuhan, semakin kita rusak dan menuju kebinasaan.

Yes. 55:6. Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya

selama Ia dekat!

 AMIN