Sebagai orang Kristen, cerita kematian Yesus
bukanlah cerita yang baru. Sejak kecil di Sekolah Minggu, di Gereja, dalam
ibadah-ibadah kategorial, kisah ini tentu pernah kita dengar dan kita mengerti
alurnya. Jika ada yang bertanya kepada kita, mengapa Yesus harus mati?
Seringkali kita menjawab “untuk menebus dosa manusia”. Lalu, mengapa dosa harus
ditebus? Kepada siapa penebusan itu Kristus tujukan?
Dalam renungan kali ini, kita akan membahas beberapa
hal sesuai yang dituliskan oleh Lukas dalam bacaan kita kali ini :
1.
Kejadian di atas
Golgota saat peristiwa penyaliban
2.
Sikap kepala
pasukan dan orang banyak yang hadir disitu
1.
Kejadian di atas
Golgota saat peristiwa penyaliban
Saat
penyaliban terjadi, ada 3 kejadian yang terjadi menurut penuturan Lukas :
1)
Terjadi
kegelapan (ay. 44)
2)
Tabir Bait Allah
terbelah menjadi dua
3) Yesus menyerukan perkataan ke-7 dan menyerahkan nyawa-Nya
1.1.
Terjadi
kegelapan
Kegelapan yang terjadi saat Yesus mati bukanlah
suatu fenomena alam biasa. Banyak yang mengidentikkan bahkan percaya bahwa saat
itu terjadi gerhana matahari. Namun hal ini menemui keberatan, bahwa kegelapan
yang terjadi di Golgota berlangsung selama 3 jam (ay.44). Secara alamiah,
gerhana matahari biasanya berdurasi paling lama 7 menit (sumber : https://kumparan.com/berita-terkini/durasi-terjadinya-peristiwa-gerhana-matahari-total-22YSFhljO1o/2
). Jadi, apa yang terjadi di Golgota bukanlah kejadian alam biasa, melainkan
kejadian supranatural. Lalu, apa arti dari kegelapan yang terjadi saat Yesus
mati?
Jika kita melihat seluruh kitab PL dan PB, kita akan melihat hubungan kegelapan dengan :
a.
Dosa (bdk. Ams.
4:19, Yes. 9:1, Mat. 6:23)
Ams. 4:19 Jalan
orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan
mereka tersandung.
Yes. 9:1 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
Mat. 6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
b.
Murka Allah
(bdk. Amos 5:18-20)
Am. 5:18-20 : 18) Celakalah mereka yang menginginkan hari TUHAN! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang! 19) Seperti seseorang yang lari terhadap singa, seekor beruang mendatangi dia, dan ketika ia sampai ke rumah, bertopang dengan tangannya ke dinding, seekor ular memagut dia! 20) Bukankah hari TUHAN itu kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya?
c. Hukuman dan Alam maut / Neraka (Bdk. Kel. 10:21-29, dimana Tuhan menulahi bangsa Mesir dengan kegelapan selama 3 hari karena dosa Firaun, juga bdk. Mat. 8:12, Mat. 22:13)
Mat. 8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."
Mat. 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Kegelapan
di atas Golgota sesungguhnya adalah gabungan dari ketiga hal tersebut :
a. Di atas salib di
Golgota, segala dosa seluruh umat manusia dipikul dan ditanggung oleh Tuhan
Yesus.
b. Di atas salib di
Golgota, seluruh murka Allah (yang sering dikatakan dalam Alkitab bahkan oleh
Tuhan Yesus sendiri sebagai “cawan murka Allah”). Murka yang seharusnya
diterima oleh manusia, telah diterima oleh Tuhan Yesus.
c. Di atas salib di Golgota, Tuhan Yesus menerima seluruh hukuman dosa – neraka – yang seharusnya diterima oleh orang berdosa
Ketiga hal di atas seharusnya terjadi pada kita, manusia yang telah mendurhaka kepada Bapa di Sorga. Namun kedatangan Tuhan Yesus ke dunia & mati di atas kayu salib menggantikan kita untuk menanggung itu semua. Tuhan Yesus telah menggenapi rencana Allah untuk menyelamatkan kita dari hukuman kekal.
1.2.
Tabir Bait Allah
terbelah Allah terbelah menjadi dua
Tabir Bait Allah adalah sebuah tirai besar yang
terpasang di antara Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus di Bait Allah (ini sama
juga dengan yang ada di denah Kemah Suci zaman Musa). Mengapa Ruang Kudus dan
Ruang Maha Kudus harus dipisahkan? Kita tahu bahwa Ruang Maha Kudus adalah
ruangan tempat diletakkannya Tabut Perjanjian, yang melambangkan kehadiran
Allah di antara bangsa Israel, yang artinya : Allah ada dalam Ruang Maha Kudus.
Pada zaman PL, Allah yang Maha Kudus itu tidak bisa didekati oleh orang berdosa,
bahkan Imam besar itu sendiri. Imam Besar hanya bisa masuk ke dalam ruangan itu
setahun sekali pada saat Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) membawa korban
pendamaian untuk mengadakan pendamaian antara Allah dan umat Israel (Imamat
16). Betapa kudusnya Allah sehingga Dia tidak bisa didekati dengan sembarangan,
sehingga harus ada tirai yang memisahkan antara Dia dan umat-Nya.
Pada saat Yesus mati, penghalang / pembatas yang memisahkan Allah dan manusia berdosa dihancurkan oleh Yesus. Ini ditandai dengan robeknya tabir yang besar itu. Dengan kematian Yesus, penghalang antara Allah dan manusia telah terbuka. Melalui kematian-Nya juga, Yesus telah menjadi satu-satunya jalan yang menghubungkan antara Allah dan manusia berdosa. Ini tepat seperti perkataan-Nya dalam Yoh. 14:6 : Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. – Tuhan Yesuslah yang membuka jalan menuju kepada Bapa, dan Dialah jalan itu sendiri. Siapa yang tidak mau percaya kepda Dia, tidak akan bisa sampai kepada Bapa di Sorga. Dengan beriman kepada Yesus, membuat kita dapat melangkah masuk ke dalam hadirat Allah – tempat yang dulunya tidak bisa kita datangi oleh karena dosa-dosa kita. Jika pada zaman PL, hanya Imam besar saja yang bisa masuk – itupun setahun sekali - , maka setelah kematian Yesus – Imam Besar yang paling Agung – kita dapat masuk bersama-Nya dalam hadirat Bapa di Sorga setiap saat.
Ef. 3:12 Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.
Ibr. 4:14-16 : 14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. 15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. 16) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Jika dulu umat Tuhan begitu sulit untuk menemui Tuhan, kita saat ini sudah memiliki akses yang sangat terbuka dan leluasa untuk menemui Tuhan. Jika demikian besar kasih Tuhan yang mau membuka hadirat-Nya bagi kita, seharusnya kita harus tanpa henti datang dalam hadirat-Nya untuk beribadah, mendengarkan Firman-Nya, memuji nama-Nya dan berbincang-bincang dengan Dia dalam doa. Mengapa kita harus menjadi malas beribadah? Jika kita bisa beribadah dengan leluasa saat ini, semua semata oleh karena hasil kerja keras Yesus Kristus di atas Golgota. Mengapa kita harus menyia-nyiakannya?
Dengan mati-Nya yang membuka jalan bagi kita untuk menuju pada Bapa, Yesus Kristus sudah menggenapi tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia, yaitu untuk menjadi jalan keselamatan bagi kita.
1.3. Yesus menyerukan perkataan ke-7 dan menyerahkan nyawa-Nya
"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." - Untuk mengerti arti dari perkataan Yesus ini, terlebih dahulukita harus mengetahui arti dari perkataan ke-6 : “Sudah selesai” (Yoh. 19:30).
Apa yang sudah selesai?
Yang sudah selesai adalah hutang dosa. Dosa adalah hutang di hadapan Allah. Bandingkan dalam Doa Bapa Kami :
Mat. 6:12 : “dan ampunilah kami akan kesalahan kami…”
KJV : “and forgive us our debts…” (our debts : hutang kami)
Jadi tiap kali kita berdosa, sesungguhnya kita sedang menumpuk hutang di hadapan Allah, dan kita wajib membayar hutang-hutang itu. Namun pada faktanya, kita semua tidak mampu untuk membayar hutang-hutang tersebut karena kita sudah mati oleh karena dosa-dosa tersebut. Itulah sebabnya kita membutuhkan seorang penebus yang dapat membayar hutang-hutang tersebut. Untuk menjadi penebus dosa, ada 2 syarat :
· Penebus itu haruslah manusia. Alasannya adalah : karena yang berhutang dosa adalah manusia.
· Penebus itu haruslah suci dan tidak berdosa. Alasannya adalah : karena orang berdosa tidak bisa menebus dosanya dan dosa orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang ada dosa, dapat membayar hutang dosa?
Bagaimana kedua syarat ini dapat dipenuhi? Di bumi banyak manusia, tetapi tidak ada yang suci dan tidak berdosa. Di Sorga ada yang suci dan tidak berdosa yaitu Allah sendiri; namun Dia bukanlah manusia. Manusia tidak dapat menjadi suci,. Satu-satunya jalan keluar adalah: Allah turun menjadi manusia, karena Allah mampu melakukan ini – sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37). Dengan demikian, terpenuhilah kedua syarat penebus ini : manusia yang suci dan tidak berdosa, dan ini dipenuhi dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita.
Andai ada jalan / cara lain, Allah tidak akan dan tidak perlu turun ke dalam dunia. Namun karena pada kenyataannya TIDAK ADA JALAN LAIN, maka Allah turun tangan dengan cara menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus dan menyelesaikan hutang dosa tersebut.
Setelah masalah penebus selesai dengan adanya Yesus, maka Yesus melakukan karya penyelamatan itu dan menggenapi rencana Allah sehingga hutang itu lunas. Pada perkataan ke-6 Yesus bukan berkata “hampir selesai” melainkan “sudah selesai”. Apa yang dapat kita renungkan dari kalimat ini?
· Jika pekerjaan Yesus itu “hampir selesai”, maka sesungguhnya ada bagian-bagian hutang dosa yang belum selesai / masih tersisa, dan itu artinya : manusialah yang harus menyelesaikannya. Siapakah diantara kita yang mampu menyelesaikan sisa hutang itu? TIDAK ADA! Maka bersyukurlah kepada Tuhan Yesus karena menyelesaikan penebusan segala hutang dosa kita!
· Fakta bahwa segala hutang dosa kita sudah diselesaikan oleh Yesus Kristus, berarti : tidak ada yang tersisa dari hutang dosa itu; semua sudah lunas dibayar Yesus, sehingga kita tidak perlu menambahkan apa-apa lagi untuk keselamatan kita.
Karena melihat segala pekerjaan- penebusan sudah selesai, maka Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya. Dia mati bukan karena kehabisan darah, gagal jantung, luka-luka berat akibat aniaya dsb., melainkan karena Dia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya. Nyawa-Nya bukan diambil / direbut dari diri-Nya, melainkan Dia yang menyerahkannya dengan rela.
Yoh. 10:17-18 : 17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18) Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."
Jika pekerjaan penebusan belum tuntas, maka Yesus tidak akan pernah mati, karena Dia tidak akan menyerahkan nyawa-Nya sebelum semua selesai. Tetapi karena Dia tahu bahwa semua sudah selesai, maka Dia menyerahkan nyawa-Nya.
Dengan matinya Yesus Kristus, segala tuntutan Hukum Taurat telah dipikul oleh Dia di atas salib. Yesus Kristus telah menggenapi segala tuntutan Hukum Taurat yang sangat berat, yang tidak bisa dipikul oleh manusia.
2.
Sikap kepala
pasukan dan orang banyak yang hadir disitu
a) Kepala Pasukan
Orang ini adalah orang Romawi yang tidak
mendalami seluk-beluk kepercayaan Yahudi, yang artinya : dia tidak tahu apa itu
konsep Mesias. Namun dari orang ini kita dapat mendengar dua pernyataan :
1) Sungguh orang ini
adalah Anak Allah (ver. Matius dan Markus)
2) Sungguh orang ini
adalah Orang benar (ver. Lukas)
Sepanjang
peristiwa penyaliban, hanya 2 orang yang mengakui dengan mulut mereka bahwa
Yesus adalah Tuhan dan raja : penyamun di samping Yesus dan kepala pasukan
Romawi, yang pada kenyataannya kedua orang ini adalah orang-orang yang
sangat jauh dari pengajaran Firman Tuhan. Jika mereka dapat memberi pengakuan
seperti ini, tentu ini adalah pekerjaan
Roh Kudus. Roh Kudus bekerja dalam hati mereka berdua sehingga sepanjang
peristiwa berjalan, mereka berdua pada akhirnya mengerti siapa sebenarnya Yesus
yang sedang disalibkan ini.
Berbeda
dengan para imam, para Farisi, para Saduki, para imam kepala dan imam besar yang juga ada
disitu. Mereka tidak mengalami perubahan apa-apa dalam hati mereka. Ini menunjukkan
bahwa Roh Kudus tidak bekerja dalam hati mereka untuk mempertobatkan mereka,
karena mereka benar-benar menolak Yesus dengan kebencian yang sangat besar.
Ini menjadi peringatan bagi kita : banyaknya orang melayani, banyaknya orang
beribadah, posisi seseorang dalam gereja tidak menjamin bahwa dia dibenarkan
Allah. Itu semua tidak menjamin seseorang dapat mengerti segala Firman Tuhan
jika dia tidak percaya kepada Yesus dengan sungguh dan tidak ada Roh Kudus yang
menuntun dia.
Pengakuan
dengan tulus dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan sudah cukup bagi
kedua orang ini untuk selamat. Penjahat di samping Yesus sudah tentu
selamat (bdk. Luk.23:43), sedangkan kepala pasukan sendiri, walaupun tidak
dicatat kehidupannya dalam Alkitab, namun fakta bahwa ketiga penulis Injil
menulis tentang pengakuan imannya membuat kita mengerti bahwa dia diselamatkan
oleh Kristus.
b) Orang-orang banyak
Orang-orang yang menonton peristiwa
penyaliban di Golgota pulang dengan hati penuh sesal (memukul-mukul diri). Mereka
menyesal karena pada akhirnya mereka sadar, sebenarnya mereka tidak menemukan
kesalahan apapun dalam diri Yesus. Mereka menyesal karena mereka sadar, mereka
telah membunuh orang yang tidak bersalah. Ya, jika kita memandang kisah hidup
Yesus dengan kacamata non Kristen sekalipun, kita tidak akan menemukan ada
yang salah dalam tingkah laku dan kata-kata Yesus selama di dunia. Tidak
pernah satu kalipun Dia mengajarkan satu kata dan kalimat yang berisi
kebencian, amoral dan permusuhan yang jahat. Dari fakta ini, kita dapat
melihat bahwa tidak ada alasan untuk membenci Yesus jika kita melihat segala
perbuatan dan ajaran-Nya yang penuh kasih, apalagi sampai membunuh Dia
dengan sadis. Hal inilah yang dirasakan oleh orang banyak itu.
Namun sesungguhnya hanya sekedar menyesal saja tidak cukup. Rasa bersalah hanya karena
masalah moralitas – telah membunuh orang yang tidak bersalah – itu tidak cukup.
Ini nyata dalam diri Yudas Iskariot (ini dapat dibaca dalam renungan saya yang
berjudul : Yudas Iskariot - https://charlesdubu.blogspot.com/2020/03/yudas-iskariot-matius-271-10.html?m=0
).
Penyesalah akan dosa harus disertai dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, minta ampun atas segala dosa serta bertobat (hal-hal inilah yang tidak dilakukan oleh Yudas). Itulah yang akan menyelamatkan kita.
Bagi orang tidak percaya, Salib adalah lambang kekalahan terbesar. Namun di salib itulah kemenangan terbesar sepanjang sejarah manusia terjadi : Yesus Kristus menang atas Iblis, dan merampas umat kepunyaan-Nya dari iblis.
Di Golgota, dosa manusia, murka dan kasih Allah Bapa menyatu dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita. Dosa manusia dipikul Yesus, murka Allah Bapa ditimpakan kepada Yesus, dan kasih serta pengampunan Allah dicurahkan kepada kita manusia berdosa melalui Yesus Kristus.
TERPUJILAH ALLAH TRITUNGGAL!
Amin.






