Selasa, 31 Maret 2026

CATATAN MENUJU JUMAT AGUNG (Luk. 23:44-49)

 


Sebagai orang Kristen, cerita kematian Yesus bukanlah cerita yang baru. Sejak kecil di Sekolah Minggu, di Gereja, dalam ibadah-ibadah kategorial, kisah ini tentu pernah kita dengar dan kita mengerti alurnya. Jika ada yang bertanya kepada kita, mengapa Yesus harus mati? Seringkali kita menjawab “untuk menebus dosa manusia”. Lalu, mengapa dosa harus ditebus? Kepada siapa penebusan itu Kristus tujukan?

Dalam renungan kali ini, kita akan membahas beberapa hal sesuai yang dituliskan oleh Lukas dalam bacaan kita kali ini :

1.    Kejadian di atas Golgota saat peristiwa penyaliban

2.    Sikap kepala pasukan dan orang banyak yang hadir disitu

 

1.    Kejadian di atas Golgota saat peristiwa penyaliban

Saat penyaliban terjadi, ada 3 kejadian yang terjadi menurut penuturan Lukas :

1)       Terjadi kegelapan (ay. 44)

2)       Tabir Bait Allah terbelah menjadi dua

3)       Yesus menyerukan perkataan ke-7 dan menyerahkan nyawa-Nya

1.1. Terjadi kegelapan

Kegelapan yang terjadi saat Yesus mati bukanlah suatu fenomena alam biasa. Banyak yang mengidentikkan bahkan percaya bahwa saat itu terjadi gerhana matahari. Namun hal ini menemui keberatan, bahwa kegelapan yang terjadi di Golgota berlangsung selama 3 jam (ay.44). Secara alamiah, gerhana matahari biasanya berdurasi paling lama 7 menit (sumber : https://kumparan.com/berita-terkini/durasi-terjadinya-peristiwa-gerhana-matahari-total-22YSFhljO1o/2 ). Jadi, apa yang terjadi di Golgota bukanlah kejadian alam biasa, melainkan kejadian supranatural. Lalu, apa arti dari kegelapan yang terjadi saat Yesus mati?

Jika kita melihat seluruh kitab PL dan PB, kita akan melihat hubungan kegelapan dengan :

a.       Dosa (bdk. Ams. 4:19, Yes. 9:1, Mat. 6:23)

Ams. 4:19 Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.

 Yes. 9:1  Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.

 Mat. 6:23  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

b.       Murka Allah (bdk. Amos 5:18-20)

Am. 5:18-20 : 18) Celakalah mereka yang menginginkan hari TUHAN! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang! 19) Seperti seseorang yang lari terhadap singa, seekor beruang mendatangi dia, dan ketika ia sampai ke rumah, bertopang dengan tangannya ke dinding, seekor ular memagut dia! 20) Bukankah hari TUHAN itu kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya?

c.       Hukuman dan Alam maut / Neraka (Bdk. Kel. 10:21-29, dimana Tuhan menulahi bangsa Mesir dengan kegelapan selama 3 hari karena dosa Firaun, juga bdk. Mat. 8:12, Mat. 22:13)

Mat. 8:12  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Mat. 22:13  Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.

Kegelapan di atas Golgota sesungguhnya adalah gabungan dari ketiga hal tersebut :

a.    Di atas salib di Golgota, segala dosa seluruh umat manusia dipikul dan ditanggung oleh Tuhan Yesus.

b.     Di atas salib di Golgota, seluruh murka Allah (yang sering dikatakan dalam Alkitab bahkan oleh Tuhan Yesus sendiri sebagai “cawan murka Allah”). Murka yang seharusnya diterima oleh manusia, telah diterima oleh Tuhan Yesus.

c.     Di atas salib di Golgota, Tuhan Yesus menerima seluruh hukuman dosa – neraka – yang seharusnya diterima oleh orang berdosa

Ketiga hal di atas seharusnya terjadi pada kita, manusia yang telah mendurhaka kepada Bapa di Sorga. Namun kedatangan Tuhan Yesus ke dunia & mati di atas kayu salib menggantikan kita untuk menanggung itu semua. Tuhan Yesus telah menggenapi rencana Allah untuk menyelamatkan kita dari hukuman kekal.

1.2. Tabir Bait Allah terbelah Allah terbelah menjadi dua

Tabir Bait Allah adalah sebuah tirai besar yang terpasang di antara Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus di Bait Allah (ini sama juga dengan yang ada di denah Kemah Suci zaman Musa). Mengapa Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus harus dipisahkan? Kita tahu bahwa Ruang Maha Kudus adalah ruangan tempat diletakkannya Tabut Perjanjian, yang melambangkan kehadiran Allah di antara bangsa Israel, yang artinya : Allah ada dalam Ruang Maha Kudus. Pada zaman PL, Allah yang Maha Kudus itu tidak bisa didekati oleh orang berdosa, bahkan Imam besar itu sendiri. Imam Besar hanya bisa masuk ke dalam ruangan itu setahun sekali pada saat Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) membawa korban pendamaian untuk mengadakan pendamaian antara Allah dan umat Israel (Imamat 16). Betapa kudusnya Allah sehingga Dia tidak bisa didekati dengan sembarangan, sehingga harus ada tirai yang memisahkan antara Dia dan umat-Nya.

Pada saat Yesus mati, penghalang / pembatas yang memisahkan Allah dan manusia berdosa dihancurkan oleh Yesus. Ini ditandai dengan robeknya tabir yang besar itu. Dengan kematian Yesus, penghalang antara Allah dan manusia telah terbuka. Melalui kematian-Nya juga, Yesus telah menjadi satu-satunya jalan yang menghubungkan antara Allah dan manusia berdosa. Ini tepat seperti perkataan-Nya dalam Yoh. 14:6 : Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. – Tuhan Yesuslah yang membuka jalan menuju kepada Bapa, dan Dialah jalan itu sendiri. Siapa yang tidak mau percaya kepda Dia, tidak akan bisa sampai kepada Bapa di Sorga. Dengan beriman kepada Yesus, membuat kita dapat melangkah masuk ke dalam hadirat Allah – tempat yang dulunya tidak bisa kita datangi oleh karena dosa-dosa kita. Jika pada zaman PL, hanya Imam besar saja yang bisa masuk – itupun setahun sekali - , maka setelah kematian Yesus – Imam Besar yang paling Agung – kita dapat masuk bersama-Nya dalam hadirat Bapa di Sorga setiap saat.

Ef. 3:12  Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.

Ibr. 4:14-16 : 14)  Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. 15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. 16) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Jika dulu umat Tuhan begitu sulit untuk menemui Tuhan, kita saat ini sudah memiliki akses yang sangat terbuka dan leluasa untuk menemui Tuhan. Jika demikian besar kasih Tuhan yang mau membuka hadirat-Nya bagi kita, seharusnya kita harus tanpa henti datang dalam hadirat-Nya untuk beribadah, mendengarkan Firman-Nya, memuji nama-Nya dan berbincang-bincang dengan Dia dalam doa. Mengapa kita harus menjadi malas beribadah? Jika kita bisa beribadah dengan leluasa saat ini, semua semata oleh karena hasil kerja keras Yesus Kristus di atas Golgota. Mengapa kita harus menyia-nyiakannya?

Dengan mati-Nya yang membuka jalan bagi kita untuk menuju pada Bapa, Yesus Kristus sudah menggenapi tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia, yaitu untuk menjadi jalan keselamatan bagi kita.

1.3.  Yesus menyerukan perkataan ke-7 dan menyerahkan nyawa-Nya

"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." - Untuk mengerti arti dari perkataan Yesus ini, terlebih dahulukita harus mengetahui arti dari perkataan ke-6 : “Sudah selesai” (Yoh. 19:30).

Apa yang sudah selesai?

Yang sudah selesai adalah hutang dosa. Dosa adalah hutang di hadapan Allah. Bandingkan dalam Doa Bapa Kami :

Mat. 6:12 : “dan ampunilah kami akan kesalahan kami…”

KJV : “and forgive us our debts…” (our debts : hutang kami)

Jadi tiap kali kita berdosa, sesungguhnya kita sedang menumpuk hutang di hadapan Allah, dan kita wajib membayar hutang-hutang itu. Namun pada faktanya, kita semua tidak mampu untuk membayar hutang-hutang tersebut karena kita sudah mati oleh karena dosa-dosa tersebut. Itulah sebabnya kita membutuhkan seorang penebus yang dapat membayar hutang-hutang tersebut. Untuk menjadi penebus dosa, ada 2 syarat :

·      Penebus itu haruslah manusia. Alasannya adalah : karena yang berhutang dosa adalah manusia.

·      Penebus itu haruslah suci  dan tidak berdosa. Alasannya adalah : karena orang berdosa tidak bisa menebus dosanya dan dosa orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang ada dosa, dapat membayar hutang dosa?

Bagaimana kedua syarat ini dapat dipenuhi? Di bumi banyak manusia, tetapi tidak ada yang suci dan tidak berdosa. Di Sorga ada yang suci dan tidak berdosa yaitu Allah sendiri; namun Dia bukanlah manusia. Manusia tidak dapat menjadi suci,. Satu-satunya jalan keluar adalah: Allah turun menjadi manusia, karena Allah mampu melakukan ini – sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37). Dengan demikian, terpenuhilah kedua syarat penebus ini : manusia yang suci dan tidak berdosa, dan ini dipenuhi dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita.

Andai ada jalan / cara lain, Allah tidak akan dan tidak perlu turun ke dalam dunia. Namun karena pada kenyataannya TIDAK ADA JALAN LAIN, maka Allah turun tangan dengan cara menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus dan menyelesaikan hutang dosa tersebut.

Setelah masalah penebus selesai dengan adanya Yesus, maka Yesus melakukan karya penyelamatan itu dan menggenapi rencana Allah sehingga hutang itu lunas. Pada perkataan ke-6 Yesus bukan berkata “hampir selesai” melainkan “sudah selesai”. Apa yang dapat kita renungkan dari kalimat ini?

·      Jika pekerjaan Yesus itu “hampir selesai”, maka sesungguhnya ada bagian-bagian hutang dosa yang belum selesai / masih tersisa, dan itu artinya : manusialah yang harus menyelesaikannya. Siapakah diantara kita yang mampu menyelesaikan sisa hutang itu? TIDAK ADA! Maka bersyukurlah kepada Tuhan Yesus karena menyelesaikan penebusan segala hutang dosa kita!

·      Fakta bahwa segala hutang dosa kita sudah diselesaikan oleh Yesus Kristus, berarti : tidak ada yang tersisa dari hutang dosa itu; semua sudah lunas dibayar Yesus, sehingga kita tidak perlu menambahkan apa-apa lagi untuk keselamatan kita.

Karena melihat segala pekerjaan- penebusan sudah selesai, maka Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya. Dia mati bukan karena kehabisan darah, gagal jantung, luka-luka berat akibat aniaya dsb., melainkan karena Dia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya. Nyawa-Nya bukan diambil / direbut dari diri-Nya, melainkan Dia yang menyerahkannya dengan rela.

Yoh. 10:17-18 : 17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18) Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Jika pekerjaan penebusan belum tuntas, maka Yesus tidak akan pernah mati, karena Dia tidak akan menyerahkan nyawa-Nya sebelum semua selesai. Tetapi karena Dia tahu bahwa semua sudah selesai, maka Dia menyerahkan nyawa-Nya.

Dengan matinya Yesus Kristus, segala tuntutan Hukum Taurat telah dipikul oleh Dia di atas salib. Yesus Kristus telah menggenapi segala tuntutan Hukum Taurat yang sangat berat, yang tidak bisa dipikul oleh manusia.

2.    Sikap kepala pasukan dan orang banyak yang hadir disitu

a)     Kepala Pasukan

Orang ini adalah orang Romawi yang tidak mendalami seluk-beluk kepercayaan Yahudi, yang artinya : dia tidak tahu apa itu konsep Mesias. Namun dari orang ini kita dapat mendengar dua pernyataan :

1)       Sungguh orang ini adalah Anak Allah (ver. Matius dan Markus)

2)       Sungguh orang ini adalah Orang benar (ver. Lukas)

Sepanjang peristiwa penyaliban, hanya 2 orang yang mengakui dengan mulut mereka bahwa Yesus adalah Tuhan dan raja : penyamun di samping Yesus dan kepala pasukan Romawi, yang pada kenyataannya kedua orang ini adalah orang-orang yang sangat jauh dari pengajaran Firman Tuhan. Jika mereka dapat memberi pengakuan seperti ini, tentu ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja dalam hati mereka berdua sehingga sepanjang peristiwa berjalan, mereka berdua pada akhirnya mengerti siapa sebenarnya Yesus yang sedang disalibkan ini.

Berbeda dengan para imam, para Farisi, para Saduki, para  imam kepala dan imam besar yang juga ada disitu. Mereka tidak mengalami perubahan apa-apa dalam hati mereka. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak bekerja dalam hati mereka untuk mempertobatkan mereka, karena mereka benar-benar menolak Yesus dengan kebencian yang sangat besar. Ini menjadi peringatan bagi kita : banyaknya orang melayani, banyaknya orang beribadah, posisi seseorang dalam gereja tidak menjamin bahwa dia dibenarkan Allah. Itu semua tidak menjamin seseorang dapat mengerti segala Firman Tuhan jika dia tidak percaya kepada Yesus dengan sungguh dan tidak ada Roh Kudus yang menuntun dia.

Pengakuan dengan tulus dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan sudah cukup bagi kedua orang ini untuk selamat. Penjahat di samping Yesus sudah tentu selamat (bdk. Luk.23:43), sedangkan kepala pasukan sendiri, walaupun tidak dicatat kehidupannya dalam Alkitab, namun fakta bahwa ketiga penulis Injil menulis tentang pengakuan imannya membuat kita mengerti bahwa dia diselamatkan oleh Kristus.

b)     Orang-orang banyak

Orang-orang yang menonton peristiwa penyaliban di Golgota pulang dengan hati penuh sesal (memukul-mukul diri). Mereka menyesal karena pada akhirnya mereka sadar, sebenarnya mereka tidak menemukan kesalahan apapun dalam diri Yesus. Mereka menyesal karena mereka sadar, mereka telah membunuh orang yang tidak bersalah. Ya, jika kita memandang kisah hidup Yesus dengan kacamata non Kristen sekalipun, kita tidak akan menemukan ada yang salah dalam tingkah laku dan kata-kata Yesus selama di dunia. Tidak pernah satu kalipun Dia mengajarkan satu kata dan kalimat yang berisi kebencian, amoral dan permusuhan yang jahat. Dari fakta ini, kita dapat melihat bahwa tidak ada alasan untuk membenci Yesus jika kita melihat segala perbuatan dan ajaran-Nya yang penuh kasih, apalagi sampai membunuh Dia dengan sadis. Hal inilah yang dirasakan oleh orang banyak itu.

Namun sesungguhnya hanya sekedar menyesal saja tidak cukup. Rasa bersalah hanya karena masalah moralitas – telah membunuh orang yang tidak bersalah – itu tidak cukup. Ini nyata dalam diri Yudas Iskariot (ini dapat dibaca dalam renungan saya yang berjudul : Yudas Iskariot - https://charlesdubu.blogspot.com/2020/03/yudas-iskariot-matius-271-10.html?m=0 ).

Penyesalah akan dosa harus disertai dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, minta ampun atas segala dosa serta bertobat (hal-hal inilah yang tidak dilakukan oleh Yudas). Itulah yang akan menyelamatkan kita.

Bagi orang tidak percaya, Salib adalah lambang kekalahan terbesar. Namun di salib itulah kemenangan terbesar sepanjang sejarah manusia terjadi : Yesus Kristus menang atas Iblis, dan merampas umat kepunyaan-Nya dari iblis.

Di Golgota, dosa manusia, murka dan kasih Allah Bapa menyatu dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita. Dosa manusia dipikul Yesus, murka Allah Bapa ditimpakan kepada Yesus, dan kasih serta pengampunan Allah dicurahkan kepada kita manusia berdosa melalui Yesus Kristus.

TERPUJILAH ALLAH TRITUNGGAL!

Amin.

Selasa, 10 Maret 2026

LOVE & SACRIFICE

 


Love & sacrifice atau Cinta dan pengorbanan. Dua hal yang kata orang tidak bisa terpisahkan. Jika kita mencintai, maka kita juga harus bisa berkorban. Berkorban disini bisa dalam berbagai hal : berkorban waktu, tenaga, bahkan uang (rela menabung untuk bisa menraktir pacar itu termasuk pengorbanan). Jika anda tidak bersedia untuk berkorban, maka anda dikatakan “tidak mencintai”. Itulah ukuran dalam mencintai : harus ada pengorbanan.

Namun, ada satu hal yang berkaitan dengan pengorbanan yang belum saya cantumkan di atas, yang memiliki nilai tertinggi dalam klasifikasi sikap berkorban, yaitu : berkorban nyawa. Hal berkorban nyawa bukanlah hal yang mudah, karena ini menyangkut nyawa, menyangkut mati dan hidup. Berkorban nyawa berarti : memberikan nyawa / rela mati bagi seseorang yang dicintai. Hal yang mungkin sangat sulit kita temukan di dunia nyata (bukan berarti tidak ada).

Dalam tulisan kali ini, saya mau membahas beberapa film yang mengangkat tema : Rela mati bagi orang yang dikasihi. Dari begitu banyak film, saya akan mengangkat 4 ini. Selain karena popular, film-film ini juga sudah saya nonton.

1.    Romeo + Juliet

Poster film Romeo + Juliet (1996)

Romeo & Juliet adalah suatu kisah karangan William Shakespeare yang ditulis antara tahun 1591-1595. Film ini diangkat ke layar lebar pada tahun 1996, disutradarai oleh Bazz Luhrmann. Film ini bercerita tentang seorang pemuda tampan yang bernama Romeo Motague (Leonardo Dicaprio) yang jatuh cinta kepada seorang pemudi tampan yang bernama Juliet Capulet (Claire Daines). Cinta mereka terhalang oleh satu masalah besar : permusuhan keluarga. Keluarga Capulet adalah musuh besar keluarga Montague. Permusuhan ini tidak hanya terjadi pada Lord Capulet dan Lord Montague, tetapi merambat sampai kepada istri, anak, keponakan dan seluruh keluarga mereka. Namun begitulah kekuatan cinta – cinta kuat seperti maut (bdk. Kidung Agung 8:6) – walaupun keluarga mereka bermusuhan, tetapi mereka tetap menjalin cinta. Singkat cerita, dibantu oleh pengasuh Juliet dan Pastor Laurence (sahabat Romeo), maka kedua sejoli ini diatur untuk melaksanakan kawin lari. Ps. Laurance membuat suatu skenario agar Juliet pura-pura meninggal, lalu mereka akan bertemu di Gereja dan pada akhirnya mereka melarikan diri. Romeo yang salah paham dan mengira Juliet telah benar-benar meninggal langsung saja menegak racun dan tewas seketika disamping Juliet yang sedang terbaring. Selang beberapa lama, Juliet  pun bangun dan melihat Romeo sudah tewas karena meminum racun mematikan. Juliet pun dengan hati hancur mengambil pistol pada pinggang Romeo dan menembakkannya ke kepalanya. Sekejap Juliet langsung meregang nyawa.

Romeo yang rela minum racun dan Juliet yang rela menembak kepalanya sendiri, semua itu dilakukan karena satu hal : hanya karena cinta. Romeo rela mati karena tidak ingin berpisah dengan Juliet yang dicintainya. Sebaliknya Juliet pun rela mati karena tidak ingin berpisah dengan Romeo yang dicintainya

2.    Titanic


Poster film Titanic (1997)

 Siapa yang belum pernah nonton Titanic? Film romantis dengan latar kapal mewah yang paling terkenal ini merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Selain menceritakan sejarah tenggelamnya kapal Titanic yang terkenal itu, kita juga disuguhi kisah cinta antara Jack Dawson (lagi-lagi Leonardo Dicaprio) dan Rose DeWitt Bukater (Kate Winslet - yang bagi saya dialah aktris tercantik sepanjang masa). Dimulai dari kisah Rose yang tertekan dan dipaksa untuk menikah dengan pria kaya pilihan orangtuanya, yaitu pebisnis muda Caledon Hockley (Billy Zane). Rose lalu mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari atas kapal, namun dicegah oleh Jack. Dari pertemuan inilah, mereka berdua langsung akrab dan saling jatuh cinta. Setelah penuh dengan drama cinta tersembunyi selama beberapa hari di atas kapal - dengan scene “I’m flying”-nya yang terkenal -, mereka berdua harus diperhadapkan dengan kenyataan bahwa : kapal terbaik zaman itu – the ship of dreams -  harus menabrak gunung es, mengalami kebocoran dan akan tenggelam. Selama beberapa jam sebelum Titanic tenggelam ke dasar, Jack berusaha keras untuk menjaga Rose dan selalu mencari cara menyelamatkan dirinya dan Rose. Hingga akhirnya mereka berdua tidak mendapatkan sekoci dan harus berada di atas kapal hingga kapal itu tenggelam. Setelah kapal tenggelam, mereka berdua lalu terapung di atas Samudra es Atlantik Utara yang sangat dingin, dengan Jack rela tetap berada di atas air dan Rose berbaring di atas papan kayu agar dia tidak terlalu kedinginan dibanding harus terendam di atas air. Pengorbanan ini pada akhirnya membuat Jack harus meninggal karena membeku, dan pada akhirnya Rose selamat setelah sekoci penyelamat datang.

Dalam film ini, Jack benar-benar berusaha keras untuk menjaga menyelamatkan Rose, hingga akhirnya rela berkorban terapung di air es dan menyebabkan dia meninggal. Pengorbanan nyawa ini dilakukan karena Jack benar-benar sangat mencintai Rose dan  dia tahu : Rose juga mencintai dia.

3.    Armageddon

Poster film Armageddon (1998)

“I don’t wanna close my eyes, I don’t wanna fall to sleep cz I miss u baby; and I don’t wanna miss a thing…” lagu slow rock keren yang tentu tidak asing lagi di telinga kita. Ya, I don’t wanna miss a thing karya Aerosmith merupakan soundtrack dari film Armageddon tahun 1998. Film ini mengisahkan tentang para pekerja kilang minyak yang dikirim ke luar angkasa untuk melakukan misi penyelamatan dunia : mengebor dan meledakkan asteroid raksasa yang akan menghantam bumi. Di Antara para pengebor minyak itu, ada dua orang yang saling berseteru : Harry Stamper (Bruce Willis) dan AJ Frost (Ben Affleck). Harry sangat membenci AJ yang playboy karena AJ memacari putri sematawayang Harry, Grace Stamper (Liv Tyler). Setelah Harry dan rekan-rekannya mendapat pelatihan oleh NASA, mereka lalu dikirimkan ke luar angkasa untuk bekerja menghancurkan asteroid tersebut. Satu per satu anggota mulai berguguran dan hanya tersisa beberapa orang, termasuk Harry dan AJ. Tiba saatnya mereka harus melakukan peledakkan bom yang ditanam di dalam asteroid, mereka mengalami kerusakan pada pengendali detonator bom jarak jauh, sehingga bom harus diledakkan secara manual yang artinya : satu orang harus berkorban untuk tetap berada di asteroid untuk mengaktifkan detotator. Saat mereka melakukan pengundian, AJ-lah yang mendapatkan undian tersebut, dan dia harus berkorban untuk mati oleh ledakan bom di asteroid. Namun, Harry mengambil alih tugas itu dan memilih menggantikan AJ untuk meledakkan asteroid. Pada akhirnya, Harry harus tewas, AJ dan rekan-rekannya yang tersisa kembali ke bumi, dan bumi diselamatkan.

Harry rela berkorban dan memilih mati karena dia sangat mencintai putrinya Grace. Dia tahu, bahwa Grace sangat mencintai AJ, demikian juga AJ sangat mencintai Grace. Harry rela mati bukan hanya agar bumi diselamatkan, tetapi juga agar anaknya bahagia dengan lelaki yang dicintai. Harry rela mati karena cintanya pada Grace, AJ, teman-temannya sesama pengebor minyak dan kepada seluruh bumi.

4.    Avengers : Endgame (2019)

Poster film Avengers : Endgame (2019)

Avengers : Endgame tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Ini merupakan salah satu film superhero terseru yang pernah saya tonton. Russo Brothers berhasil membuat satu film superhero yang memiliki standar tinggi, sehingga film-film garapan Marvel setelahnya terasa sangat biasa-biasa saja. Perjuangan para Avengers : Captain America, Ironman, Hulk, Thor, Black Widow dkk yang berusaha mati-matian mengalahkan Thanos yang ingin menguasai Infinity Stone demi proyek besarnya : melakukan pemusnahan massal di seluruh alam semesta agar alam dapat menjadi seimbang, menjadikan film ini sangat menarik ditonton. Saya mungkin tidak akan membahasnya terlalu panjang karena saya yakin, para pembaca sudah menonton film ini. Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah : pengorbanan yang dilakukan oleh Tony Stark – sang Ironman (Robert Downey Jr) pada akhir pertarungan, dimana Tony berhasil mendapatkan seluruh infinity stone dan menjentikkan jari yang pada akhirnya memusnahkan Thanos dan seluruh pasukannya. Sayangnya, dibalik baju bajanya Tony hanyalah manusia biasa, sehingga dia tidak mampu menahan kekuatan dari infinity stone. Ini menyebabkan Tony meninggal di medan pertempuran.

Tony rela berkorban karena dia tahu bahwa ada banyak orang yang harus diselamatkan dari proyek Thanos : kekasihnya Pepper Potts, sahabat-sahabatnya para Avengers dan seluruh isi alam semesta


Empat film sudah kita bahas, dan kita akan menemukan pola yang sama dari keempat film ini yaitu : mereka semua rela mati demi orang-orang yang adalah kekasih mereka, anak mereka dan sahabat-sahabat mereka. Romeo rela mati karena dia mencintai Juliet dan Juliet juga mencintainya. Jack rela mati karena dia mencintai Rose dan Rose juga mencintainya. Harry rela mati karena dia mencintai Grace dan Grace juga mencintainya. Tony rela mati karena dia mencintai Pepper dan Pepper juga mencintainya. Begitu juga dengan para Avengers yang lain.

Pengorbanan dalam kisah seperti ini sudah dapat kita tebak alasannya. Namun pada suatu kenyataan yang pernah terjadi di alam semesta ini, kita akan menemukan suatu pengorbanan yang sangat agung dan mulia; pengorbanan yang tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada sampai alam semesta ini berakhir : ada satu pribadi yang mau mengorbankan nyawa bagi orang-orang yang sangat jahat, orang-orang yang sangat durhaka dan bagi orang-orang yang membenci-Nya. Orang-orang itu adalah KITA, dan pribadi itu adalah YESUS KRISTUS.

Kita mungkin sudah tahu bahwa Yesus Kristus rela mati bagi kita karena Dia mengasihi kita. Namun tahukah bahwa : Yesus Kristus rela mati bagi kita saat kita masih begitu jahat kepada-Nya? Jika dalam standar dunia : seseorang akan rela berkorban (bahkan sampai mati) hanya untuk orang-orang yang juga mengasihi dia, maka standar Allah sungguh berbeda : DIA RELA MATI BAGI ORANG-ORANG YANG MEMUSUHI DIA, YANG MENOLAK DIA, YANG DURHAKA KEPADA DIA.

Rom. 5:7-8 : 7) Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar  —  tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati  — .8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (TB)

 Terj. versi TSI : 7) Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar  —  tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati  —. 8)  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

 Terj. versi FAYH : 7) Seandainya kita baik sekalipun, kita tidak dapat mengharapkan seseorang mati untuk kita, walaupun tentunya kemungkinan selalu ada. 8) Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita dengan mengutus Kristus supaya mati untuk kita pada waktu kita hidup dalam dosa.

Rom. 5:7 menyatakan bahwa dengan standar dunia, sangat sulit bagi seseorang untuk rela mati bagi orang lain walau orang itu baik. Namun pada ayat 8, Rasul Paulus mau menyatakan suatu standar cinta yang sangat besar yang datangnya daripada Allah : Kristus mati untuk kita saat kita masih berdosa. Ya, Tuhan Yesus tidak menunggu kita menjadi baik dulu baru Dia mau berkorban nyawa bagi kita. Kasih Allah melampaui batas manusia. Jika manusia hanya mau berkorban bagi mereka yang mengasihi dia, maka Tuhan mau berkorban bagi manusia yang membenci Dia.

Kita patut bersyukur jika Tuhan mau mengasihi kita terlebih dahulu, sehingga Dia rela berkorban bagi kita saat kita masih berdosa. Jika Tuhan memakai standar manusia : mengasihi manusia jika manusia sudah mengasihi Dia; atau berkorban bagi manusia saat manusia sudah mengasihi Dia, maka kita tentu binasa. Mengapa? Karena siapakah kita ini sehingga dapat mengasihi Allah? Siapakah kita ini sehingga kita dapat memenuhi standar Allah agar dapat disebut : mengasihi Allah? Kita semua telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm.3:23), binasa karena dosa (Kej.2:17), terpisah dari Allah oleh karena dosa. Kerusakan total (Calvin : Total Depravity) membuat kita tidak mampu melakukan kebaikan dan ketaatan yang sesuai standar Allah. Seluruh keinginan diri kita hanyalah melawan Allah dan cenderung berbuat jahat. Lalu, bagaimana kita dapat mengasihi Allah?

Hanya karena kasih karunia semata, sehingga Allah mau berinisiatif untuk mengerjakan keselamatan kita. Setelah Yesus Kristus menebus kita, maka Roh Kudus bekerja sehingga kita dapat beriman kepada-Nya. Setelah itu, barulah Roh Kudus menolong ktia untuk dapat mengasihi Allah. Jadi, kasih dimulai bukan dari diri kita, tetapi dari Allah terlebih dahulu.

Setelah kita menerima kasih Alah, kita juga patut untuk mengasihi Dia. Cinta jangan berat sebelah, kita jangan sekali-kali tetap tingal dalam kedurhakaan. Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita (Mat.22:37).

Sekali lagi kita patut bersyukur, standar Allah bukanlah standar manusia. Kita patut bersyukur karena Allah telah mengasihi kita bahkan sejak kita masih menjadi musuh-Nya. Kita patut bersyukur karena Tuhan Yesus Kristus rela mati bagi kita yang durhaka ini. Saya mengutip satu quotes yang sangat bagus di Instagram : Alkitab adalah satu-satunya kisah ketika Sang Pahlawan mati bagi para penjahatnya (postingan IG dari akun @yesusinside).

Terpujilah Allah! Soli Deo Gloria!

Amin.


IDENTITAS & NILAI DIRI ORANG KRISTEN (1 Pet. 1:1-2; 1 Pet. 2:9-12; 1 Pet. 1:18-19)

 


Surat Petrus ditujukan kepada orang-orang Kristen Israel yang saat itu sedang tersebar di Asia Kecil (zaman sekarang dikenal dengan Negara Turki) dan tinggal disana sebagai pendatang. Mereka tersebar di seluruh Asia Kecil (ay.1) dengan berbagai alasan :

1.    Karena alasan keamanan

Saat itu gencar terjadi penganiayaan terhadap orang Kristen, yang dilakukan oleh orang Yahudi maupun orang Romawi. Karena itulah banyak orang Kristen dari sekitar Palestina yang melarikan diri ke sekitar Asia Kecil dan tinggal disana.

2.    Karena alasan ekonomi

Asia Kecil merupakan salah satu jalur perdagangan strategis pada saat itu, yang menghubungkan Eropa dan Asia sehingga menjadi tempat yang baik untuk mencari penghidupan disana.

 Dalam suratnya bagi para pendatang ini, dimulai dengan suatu penekanan terhadap identitas mereka sebagai orang Kristen

 1 Pet. 1:1-2 : 1) Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

 Hal ini ditegaskan lagi oleh Petrus dalam pertengahan suratnya :

 1 Pet. 2:9-10 : 9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib 10) kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

 Mengapa Petrus perlu untuk menekankan identitas mereka sebagai umat Allah dan sebagai kaum tebusan? Ini semua karena mereka tinggal di suatu tempat yang dipengaruhi oleh globalisasi dunia, yang telah dipengaruhi oleh berbagai macam kepercayaan (di luar Kristen), budaya, filsafat, gaya hidup dan paham pluralisme. Dalam kondisi dunia yang demikian, Petrus mengingatkan identitas mereka sebagai orang Kristen yang telah dipilih oleh Allah, dan telah dikuduskan bangsa kepunyaan Allah dan umat Allah. Petrus tidak mau para pendatang ini menjadi terpengaruh dengan kondisi sekitar mereka, sehingga melupakan identitas diri mereka sebagai umat kepunyaan Allah yang telah ditebus oleh Kristus.

 1 Pet. 2:11 -12 : 11) Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12) Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

 Dari ayat ini jelas bahwa Petrus ingin supaya orang-orang Kristen jangan terpengaruh dengan kehidupan duniawi dan menjauhi cara hidup orang-orang yang tidak beriman kepada Kristus sehingga identitas mereka sebagai umat kepunyaan Allah tetap terjaga dan murni. Petrus memperingati mereka agar mereka tidak mengikuti bahkan tertawan pada ajaran-ajaran, gaya hidup, budaya dan paham yang bertentangan dengan iman Kristen, supaya mereka tidak kehilangan identitas mereka sebagai umat Allah dan pada akhirnya menjadi murtad.

Pada zaman modern ini, kita juga berada pada posisi yang sama dengan orang Kristen Diaspora pada zaman Petrus, dimana kita hidup dalam dunia yang telah terpengaruh dengan begitu macam hal yang bisa menyerang identitas kita sebagai orang Kristen. Kemajuan teknologi setelah revolusi industri mengubah segalanya : kemajuan teknologi, gadget, sosial media, aplikasi online, segala kemudahan-kemudahan hidup karena internet dsb mengakibatkan adanya perubahan pola hidup dan pola pikir yang pada akhirnya membuat identitas dan kita sebagai manusia mulia dan identitas kita sebagai orang Kristen mulai tergerus. Selain itu, kesulitan hidup karena pemerintahan yang buruk, karena peperangan dan penyebab-penyebab lainnya membuat manusia kehilangan identitas dan nilai diri.

 1.    Pada zaman ini, manusia hidup dengan begitu banyak informasi, opini dan pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif, yang pada akhirnya menekan kehidupan manusia. Hal-hal ini tidak dapat dihadapi manusia secara benar, sehingga pada akhirnya manusia menghadapinya dengan kebingungan seperti : mudah termakan hoax, tertipu informasi yang menjanjikan keuntungan (pinjol, investasi bodong dsb). Orang yang telah tertipu segala informasi bohong ini pada akhirnya juga turut menyebarkan hal yang sama, sehingga informasi hoax ini pada akhirnya tersebar dengan luas.

Manusia juga tidak memiliki pegangan hidup dan kemampuan mempertahankan argumen karena telah diisi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif. Pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif pada akhirnya mulai masuk dalam ranah keimanan, sehingga manusia mulai meragukan imannya sendiri, meragukan iman orang lain, dan pada akhirnya berpindah keyakinan atau menjadi Atheis.

2.    Pada zaman ini, manusia telah kehilangan nilai-nilai kehidupan, sehingga merasa diri tidak berharga. Ini disebabkan karena manusia tidak mengetahui berapa besar / berapa harga dari nilai dirinya. Akibatnya :

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga pada akhirnya dia menjual diri. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia rela memprostitusikan diri / menjual dirinya hanya dengan sejumlah uang.

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga dia merendahkan diri dan berlaku tidak sopan hanya untuk menyenangkan hati orang lain dan menarik perhatian orang lain. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia rela memakai pakaian yang tidak sopan / terbuka di depan umum  / di dunia maya, bergaya / menari erotis di sosial media, memaki-maki hanya untuk mendapat perhatian dsb.

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga dia bunuh diri. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia merasa tidak ada nilai / harga dan memilih lebih baik mati.

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilainya orang lain, sehingga dengan mudah mereka menjual sesamanya. Tidak mengerti akan identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai diri orang lain, sehingga dengan mudah dia menjual orang lain, memperkosa orang lain dan membunuh orang lain, aborsi dsb.

Kehilangan nilai kehidupan membuat manusia tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan orang lain.

3.    Pada zaman ini, kemajuan tekonlogi membuat manusia menjadi pragmatis. Manusia mulai berpikir secara praktis sehingga tidak memaksimalkan pikiran dan kemampuannya. Contoh paling nyata adalah dengan adanya kemajuan AI yang membuat manusia tidak lagi menggunakan otak untuk berpikir, melainkan dengan praktis cukup mengetikkan prompt yang akan dengan mudah dikerjakan oleh AI (bahkan ada pendeta yang membuat khotbah dengan menggunakan AI, bukan hasil perenungan sendiri) - Saya sendiri tidak anti AI dan kemajuan teknologi. Namun jika hal-hal yang memerlukan otak sudah tidak lagi kita kerjakan dengan otak, tetapi mencari cara praktis dengan memakai AI, maka itu adalah bahaya besar bagi otak kita.

Hidup praktis memang membawa kenikmatan tersendiri, namun hal ini membuat kita tidak lagi memiliki ketajaman kemampuan, ketajaman berpikir dan ketajaman berkreasi. Manusia menjadi kehilangan keahlian dan menjadi bodoh karena otak jarang dipakai

4.    Sosial media membuat manusia hidup dalam kepalsuan, kehidupan yang semu dan tidak sesuai realita. Sosial media menawarkan kenikmatan tersendiri bagi banyak orang.

·      Karena sosial media, banyak orang yang merasa senang saat memiliki jumlah followers yang banyak, jumlah like yang banyak dan komentar-komentar pujian yang banyak dalam postingannya. Ini adalah hidup bahagia yang palsu karena : followers, like dan komentar baik pada sosmed belum tentu asli keadaannya. Banyak followers bukan berarti banyak orang yang menyukai kita; banyak like bukan berarti banyak orang suka dan setuju kepada postingan kita; banyak komentar pujian bukan berarti itu semua tulus. Bukankah sungguh menyedihkan jika kita banyak memiliki followers tetapi di dunia nyata kita tidak memiliki teman sama sekali? Bahkan terkadang banyak orang yang menipu diri sendiri dangan membeli followers di toko-toko online yang menyediakan hal seperti itu. Bukankah ini sungguh buruk? Fakta bahwa ada orang yang menjual jasa penyedia followers udah cukup untuk membuat kita mengerti, bagaimana dunia menggiring kita untuk hidup dalam kepalsuan.

·      Sosial media membuat orang “terpaksa” harus memposting apa yang sebenarnya dia tidak miliki hanya demi mendapat validasi dari orang lain. Saya pernah membaca suatu informasi tentang jasa penyewaan Iphone, dimana mereka membuka jasa untuk menyewakan Iphone model terbaru kepada orang-orang tertentu yang ingin merasakan sensasi tampil di sosial media dengan menggunakan iphone namun tidak punya cukup uang untuk membelinya. Herannya, bisnis ini berhasil karena banyak orang Indonesia yang menggunakan jasa ini. Mereka menipu agar mendapat validasi dari orang lain, dan ini menjadi kepuasan bagi mereka (jangan kaget, saya juga pernah membaca bahwa ada jasa penyewaan pacar!)

·      Sosial media membuat orang terpaksa berbohong dengan memposting apa yang sebenarnya dia tidak rasakan demi dunia tahu bahwa dia sedang merasakan kesempurnaan hidup, tanpa problem kehidupan dan sedang baik-baik saja. Saya pernah melihat suatu gambar hasil karya Mice Cartoon yang menggambarkan kondisi demikian. Perhatikan gambar  di bawah ini

Sumber : Mice Cartoon, KOMPAS Minggu 1 Juni 2014: Di Balik Keceriaan Selfie

Dari gambar ini kita akan mengerti bahwa demi kepentingan media sosial, manusia rela menipu diri sendiri dan orang lain. Manusia hidup dalam kebahagiaan semu, tidak sesuai realita yang sedang dia alami.

·      Sosial media membuat orang terpaksa berbohong dengan berusaha sekuat tenaga untuk mengubah kenyataan dalam dirinya agar dunia memuji dia.  Banyak orang yang harus menipu dirinya sendiri dengan memposting foto dirinya yang telah dilapisi berbagai macam filter bawaan sosmed untuk mempercantik dirinya (memutihkan kulit, memuluskan wajah dsb). Banyak orang tidak berani tampil apa adanya karena takut ditolak oleh dunia. Ini adalah tindakan menipu diri sendiri dan orang lain, hanya demi mendapakan pujian dan itu membawa kepuasan bagi dirinya sendiri

Menjadi manusia palsu memiliki  banyak konsekuensi dan berbahaya, karena manusia akan melepas / membuang nilai yang paling penting dalam kehidupan, yaitu identitas diri.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang dapat menyerang identitas dan nilai diri kita sebagai orang Kristen. Untuk itulah nasihat Petrus kepada orang Kristen diaspora masih relevan sampai hari ini. Mengapa? Karena jika kita tidak mengenal siapa identitas diri kita, dan jika kita tidak tahu seberapa besar nilai diri kita, maka kita akan terpengaruh pada segala hal yang dipaparkan di atas. Kita tidak akan memiliki ciri khas sebagai orang Kristen, tidak kuat dalam iman dan keyakinan dan kita akan banyak menolerir hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Kristus, yang bertentangan dengan nilai diri kita sebagai umat pilihan Allah.

Sebagaimana orang Kristen diaspora di Asia Kecil telah dinasihati Petrus, kita pun dinasihati agar kita jangan sekali-kali melupakan bahkan kehilangan  identitas kita sebagai orang Kristen. Untuk bisa menjaga identitas kita, terlebih dahulu kita harus tahu mengenai :

·      Siapa kita?

·      Mengapa kita bisa memiliki identitas dan nilai tersebut?

·      Hal apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut?

·      Berapa dilai diri kita?

Maka jawabannya :

·      Siapa kita? Kita adalah orang berdosa yang tiada harganya, tiada nilainya karena segala dosa kita, namun telah dipilih Allah untuk mendapatkan identitas sebagai bangsa kepunyaan-Nya, umat pilihan-Nya sendiri

·      Mengapa kita bisa memiliki identitas dan nilai tersebut? Karena Allah telah memilih kita bukan karena jasa dan kebaikan kita, melainkan hanya oleh karena kasih karunia-Nya.

·      Hal apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut? Yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut hanyalah penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib, dan pertolongan Roh Kudus yang menolong kita sehingga bisa beriman kepada Yesus Kristus.

·      Berapa nilai diri kita? Nilai diri kita senilai betapa mahalnya darah Yesus Kristus yang tak bercacat dan tak bercela, yang tak ternilai harganya, yang begitu mulia di hadapan Allah Bapa di Sorga.

Bagimana kita menjaga identitas dan nilai diri kita sebagai umat Allah?

1.    Tinggal dalam Kristus dan teguh beriman kepada-Nya. Jika kita berada di luar Kristus, maka kita tidak bisa apa-apa

Yoh. 15:5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kita tidak akan pernah kehilangan identitas kita jika kita berada dalam Kristus, karena melalui Dialah kita memperoleh identitas tersebut.

Yoh. 1:12  Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

Gal. 3:26  Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Gal. 4:5-7 : 5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6) Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Kita juga harus teguh dalam iman kepada Kristus. Merujuk kepada apa yang dikatakan oleh Francis Schaeffer : “I do what I think, I think what I believe” – Aku melakukan apa yang aku pikirkan, dan aku memikirkan apa yang aku percayai -. Apa yang kita lakukan bergantung apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan bergantung kepada apa yang kita percayai / Imani. Jika kita beriman kepada Kristus, maka kita akan berpikir mengenai Kristus. Jika kita berpikir mengenai Kristus, maka kita akan hidup berlaku sesuai Kristus.

2.    Tetaplah hidup dalam kesadaran penuh, bahwa diri kita ini bernilai karena darah Kristus.

1 Pet. 1:18-19 : 18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, 19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Jika kita hidup, mengerti, mengimani dan menghayati akan hal ini, maka kita tidak akan pernah membuang / melepaskan identitas kita sebagai umat pilihan Allah. Kita juga tidak akan merendahkan nilai diri kita, karena kita sadar betapa mahalnya kita di hadapan Allah : dibeli dengan darah Kristus yang mahal, yang tak bernoda dan tak bercacat.

3.    Tetap setia dan tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan, karena dalam Alkitab sajalah kita dapat menemukan jawaban dari : siapa kita, mengapa kita bisa bernilai, apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan bernilai serta bagaimana kita menjaga identitas tersebut. Kita tidak akan menemukannya di tempat lain, karena identitas kita berasal dari Allah dan hanya melalui Firman Allah sajalah kita dapat mengetahui hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga dan mempertahankan identitas kita sebagai orang Kristen. Firman Tuhan juga dapat menolong kita agar tidak terpengaruh akan segala sesuatu yang ditawarkan dunia ini, karena Firman Tuhan sajalah yang dapat memberikan petunjuk kepada kita bagaimana kita menjalani hidup, berpikir, mengambil keputusan dan bertindak sesuai kehendak Allah.

(Bukan hanya belajar Firman Tuhan, tetapi hendaknya kita mempertajam pikiran kita dengan belajar hal-hal yang menambah pengetahuan dan keahlian kita, agar otak kita tidak menjadi busuk dan menjadi bodoh; sebaliknya otak kita menjadi berkualitas; ada baiknya kita mengurangi screen time dengan membatasi penggunaan  sosial media dan gadget agar otak kita terbiasa untuk belajar dan kita tidak terjebak pada hal-hal pragmatis. Belajar sangat berguna bagi diri kita sendiri)

4.    Tekun berdoa, karena dalam doa kita berbincang dan memiliki relasi dengan Allah. Dalam doa, kita memohon pada Roh Kudus untuk menolong kita menjaga dan mempertahankan identitas Kristen kita. Dalam doa kita mendapatkan kekuatan untuk mempertahankan identitas kita di tengan gempuran dunia yang begitu kuat. Dalam doa kita juga mendapatkan kekuatan untuk tetap teguh hidup sesuai apa yang Tuhan kehendaki

5.    Tetaplah berada dalam komunitas umat Tuhan (baca: tetaplah beribadah), karena dalam ibadah dan dalam komunitas umat Tuhan yang sejati kita dapat saling mendoakan, menguatkan, mengingatkan dan menasihati sesuai isi Alkitab. Berada dalam komunitas umat Tuhan semakin menguatkan kita dan memperteguh identitas kita karena kita tidak sendirian menghadapi gempuran dunia; sebaliknya : kita bersama Tuhan dan sesama umat beriman menghadapi gempuran dunia. Berada dalam komunitas umat Tuhan dan beribadah juga dapat menolong kita untuk tidak terpengaruh kepada gaya hidup dunia yang jahat; sebaliknya dengan menjadikan ibadah dan bersekutu sebagai cara hidup kita, maka kita akan terluput dari gaya hidup yang jahat .

6.    Tetaplah hidup dengan kesadaran penuh akan identitas kita sebagai umat Allah, jangan hidup dalam kepalsuan identitas. Jika dunia menginginkan diri yang indah / cantik /sempurna menurut ukuran dan standarnya, maka hiduplah sesuai standar dan nilai-nilai Tuhan. Jangan menjadi sedih karena tidak mendapatkan apresiasi dari dunia karena kita tidak hidup sesuai penilaian dan standar dunia. Sebaliknya : berdukalah jika kita tidak hidup sesuai standar dan penilaian Tuhan; berdukalah jika kita kehilangan identitas kita sebagai umat Allah. Satu-satunya yang berhak menilai diri, pribadi dan identitas kita adalah Tuhan. Hiduplah autentik, asli, bernilai dan beridentitas.

Mengapa Allah mengaruniakan kepada kita identitas yang begitu berharga ini?

1.    Supaya kita taat.

1 Pet. 1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

Kita mendapatkan identitas ini bukan untuk menjadi liar dan bisa hidup seenaknya. Dengan adanya identitas sebagai bangsa pilihan Allah dan umat kepunyaan Allah, maka kita juga wajib taat kepada Allah sebagai Raja dan Tuhan kita. Lagipula kita harus sadar : hanya demi membuat kita layak menjadi  bangsa pilihan dan umat kepunyaan Allah, Yesus Kristus harus taat sampai mati. Dengan demikian, apakah alasan kita untuk tidak taat dan menjadi melawan? Tidak ada.

2.    Supaya kita menjadi saksi-Nya di dunia ini.

1 Pet. 2:9-10 : 9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib 10) kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Kis. 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Kita mendapatkan identitas ini bukan untuk bersantai-santai dan malas-malasan. Sebagai bangsa pilihan Allah dan umat kepunyaan Allah, kita harus berguna bagi Kerajaan Allah itu sendiri : kita wajib menjadi saksi-saksi Kristus yang memberitakan Injil dan memberitakan kepada dunia pekerjaan-pekerjaan ajaib Tuhan yang telah membebaskan kita dari dosa dan maut. Semua pekerjaan yang berasal dari Kerajaan Allah adalah bagian kita dan kita wajib untuk mengerjakannya.

Untuk bisa mendapatkan identitas  ini, Tuhan Yesus harus menderita bahkan taat sampai mati. Ini membuktikan betapa pentingnya identitas kita di mata Tuhan. Melihat fakta bahwa begitu mahalnya darah Tuhan Yesus yang tercurah, membuktikan bahwa begitu berharganya nilai diri kita di mata Tuhan. Renungkanlah bahwa Tuhan mau melakukan ini semua semata hanya karena Dia begitu mengasihi kita. Karena itu hendaklah kita merenungkan akan diri kita, keberadaan kita, nilai diri kita dan arti hidup kita. Jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa dirimu tidak berharga sehingga mau menjual diri atau mencoba bunuh diri, maka renungkanlah : walau dunia memandangmu rendah, tetapi di mata Tuhan nilai dirimu tiada taranya oleh karena engkau dibeli dengan darah Yesus yang mahal; Jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa penilaian dunia begitu berat sehingga engkau tidak sanggup memenuhinya, maka renungkanlah : walau dunia menilaimu begitu berat sehingga engkau terluka, Tuhan justru memulihkan identitasmu dan nilai dirimu sehingga berharga di mata-Nya dengan pengorbanan-Nya yang besar; jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa dunia menolakmu karena tidak sesuai dengan standarnya, maka renungkanlah : Tuhan menerimamu apa adanya dan mau memulihkanmu. Dia mengasihimu bukan karena engkau baik, tetapi sejak engkau masih kotor, berdosa dan berseteru dengan-Nya.

Hargailah pengorbanan Tuhan, hargailah anugerah Tuhan dalam diri kita. Miliki dan hiduplah sesuai identitas diri kita : bangsa yang terpilih, dikuduskan, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Jadilah bernilai dan berharga sesuai harga yang telah telah dibayarkan bagi kita : darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang tak bercacat.

Terpujilah Allah Tritunggal!

Amin

(renungan ini saya kembangkan dari intisari khotbah Pdt. Sutjipto Subeno pada Mimbar Reformed Injili Indonesia di Kupang, Minggu 8 Maret 2026)