Selasa, 10 Maret 2026

IDENTITAS & NILAI DIRI ORANG KRISTEN (1 Pet. 1:1-2; 1 Pet. 2:9-12; 1 Pet. 1:18-19)

 


Surat Petrus ditujukan kepada orang-orang Kristen Israel yang saat itu sedang tersebar di Asia Kecil (zaman sekarang dikenal dengan Negara Turki) dan tinggal disana sebagai pendatang. Mereka tersebar di seluruh Asia Kecil (ay.1) dengan berbagai alasan :

1.    Karena alasan keamanan

Saat itu gencar terjadi penganiayaan terhadap orang Kristen, yang dilakukan oleh orang Yahudi maupun orang Romawi. Karena itulah banyak orang Kristen dari sekitar Palestina yang melarikan diri ke sekitar Asia Kecil dan tinggal disana.

2.    Karena alasan ekonomi

Asia Kecil merupakan salah satu jalur perdagangan strategis pada saat itu, yang menghubungkan Eropa dan Asia sehingga menjadi tempat yang baik untuk mencari penghidupan disana.

 Dalam suratnya bagi para pendatang ini, dimulai dengan suatu penekanan terhadap identitas mereka sebagai orang Kristen

 1 Pet. 1:1-2 : 1) Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

 Hal ini ditegaskan lagi oleh Petrus dalam pertengahan suratnya :

 1 Pet. 2:9-10 : 9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib 10) kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

 Mengapa Petrus perlu untuk menekankan identitas mereka sebagai umat Allah dan sebagai kaum tebusan? Ini semua karena mereka tinggal di suatu tempat yang dipengaruhi oleh globalisasi dunia, yang telah dipengaruhi oleh berbagai macam kepercayaan (di luar Kristen), budaya, filsafat, gaya hidup dan paham pluralisme. Dalam kondisi dunia yang demikian, Petrus mengingatkan identitas mereka sebagai orang Kristen yang telah dipilih oleh Allah, dan telah dikuduskan bangsa kepunyaan Allah dan umat Allah. Petrus tidak mau para pendatang ini menjadi terpengaruh dengan kondisi sekitar mereka, sehingga melupakan identitas diri mereka sebagai umat kepunyaan Allah yang telah ditebus oleh Kristus.

 1 Pet. 2:11 -12 : 11) Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12) Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

 Dari ayat ini jelas bahwa Petrus ingin supaya orang-orang Kristen jangan terpengaruh dengan kehidupan duniawi dan menjauhi cara hidup orang-orang yang tidak beriman kepada Kristus sehingga identitas mereka sebagai umat kepunyaan Allah tetap terjaga dan murni. Petrus memperingati mereka agar mereka tidak mengikuti bahkan tertawan pada ajaran-ajaran, gaya hidup, budaya dan paham yang bertentangan dengan iman Kristen, supaya mereka tidak kehilangan identitas mereka sebagai umat Allah dan pada akhirnya menjadi murtad.

Pada zaman modern ini, kita juga berada pada posisi yang sama dengan orang Kristen Diaspora pada zaman Petrus, dimana kita hidup dalam dunia yang telah terpengaruh dengan begitu macam hal yang bisa menyerang identitas kita sebagai orang Kristen. Kemajuan teknologi setelah revolusi industri mengubah segalanya : kemajuan teknologi, gadget, sosial media, aplikasi online, segala kemudahan-kemudahan hidup karena internet dsb mengakibatkan adanya perubahan pola hidup dan pola pikir yang pada akhirnya membuat identitas dan kita sebagai manusia mulia dan identitas kita sebagai orang Kristen mulai tergerus. Selain itu, kesulitan hidup karena pemerintahan yang buruk, karena peperangan dan penyebab-penyebab lainnya membuat manusia kehilangan identitas dan nilai diri.

 1.    Pada zaman ini, manusia hidup dengan begitu banyak informasi, opini dan pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif, yang pada akhirnya menekan kehidupan manusia. Hal-hal ini tidak dapat dihadapi manusia secara benar, sehingga pada akhirnya manusia menghadapinya dengan kebingungan seperti : mudah termakan hoax, tertipu informasi yang menjanjikan keuntungan (pinjol, investasi bodong dsb). Orang yang telah tertipu segala informasi bohong ini pada akhirnya juga turut menyebarkan hal yang sama, sehingga informasi hoax ini pada akhirnya tersebar dengan luas.

Manusia juga tidak memiliki pegangan hidup dan kemampuan mempertahankan argumen karena telah diisi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif. Pemikiran-pemikiran yang bersifat relatif pada akhirnya mulai masuk dalam ranah keimanan, sehingga manusia mulai meragukan imannya sendiri, meragukan iman orang lain, dan pada akhirnya berpindah keyakinan atau menjadi Atheis.

2.    Pada zaman ini, manusia telah kehilangan nilai-nilai kehidupan, sehingga merasa diri tidak berharga. Ini disebabkan karena manusia tidak mengetahui berapa besar / berapa harga dari nilai dirinya. Akibatnya :

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga pada akhirnya dia menjual diri. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia rela memprostitusikan diri / menjual dirinya hanya dengan sejumlah uang.

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga dia merendahkan diri dan berlaku tidak sopan hanya untuk menyenangkan hati orang lain dan menarik perhatian orang lain. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia rela memakai pakaian yang tidak sopan / terbuka di depan umum  / di dunia maya, bergaya / menari erotis di sosial media, memaki-maki hanya untuk mendapat perhatian dsb.

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilai dirinya, sehingga dia bunuh diri. Tidak memiliki identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai dirinya, sehingga dia merasa tidak ada nilai / harga dan memilih lebih baik mati.

·      Orang tidak lagi mengetahui seberapa bernilainya orang lain, sehingga dengan mudah mereka menjual sesamanya. Tidak mengerti akan identitas diri membuat orang tidak mengetahui berapa besar nilai diri orang lain, sehingga dengan mudah dia menjual orang lain, memperkosa orang lain dan membunuh orang lain, aborsi dsb.

Kehilangan nilai kehidupan membuat manusia tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan orang lain.

3.    Pada zaman ini, kemajuan tekonlogi membuat manusia menjadi pragmatis. Manusia mulai berpikir secara praktis sehingga tidak memaksimalkan pikiran dan kemampuannya. Contoh paling nyata adalah dengan adanya kemajuan AI yang membuat manusia tidak lagi menggunakan otak untuk berpikir, melainkan dengan praktis cukup mengetikkan prompt yang akan dengan mudah dikerjakan oleh AI (bahkan ada pendeta yang membuat khotbah dengan menggunakan AI, bukan hasil perenungan sendiri) - Saya sendiri tidak anti AI dan kemajuan teknologi. Namun jika hal-hal yang memerlukan otak sudah tidak lagi kita kerjakan dengan otak, tetapi mencari cara praktis dengan memakai AI, maka itu adalah bahaya besar bagi otak kita.

Hidup praktis memang membawa kenikmatan tersendiri, namun hal ini membuat kita tidak lagi memiliki ketajaman kemampuan, ketajaman berpikir dan ketajaman berkreasi. Manusia menjadi kehilangan keahlian dan menjadi bodoh karena otak jarang dipakai

4.    Sosial media membuat manusia hidup dalam kepalsuan, kehidupan yang semu dan tidak sesuai realita. Sosial media menawarkan kenikmatan tersendiri bagi banyak orang.

·      Karena sosial media, banyak orang yang merasa senang saat memiliki jumlah followers yang banyak, jumlah like yang banyak dan komentar-komentar pujian yang banyak dalam postingannya. Ini adalah hidup bahagia yang palsu karena : followers, like dan komentar baik pada sosmed belum tentu asli keadaannya. Banyak followers bukan berarti banyak orang yang menyukai kita; banyak like bukan berarti banyak orang suka dan setuju kepada postingan kita; banyak komentar pujian bukan berarti itu semua tulus. Bukankah sungguh menyedihkan jika kita banyak memiliki followers tetapi di dunia nyata kita tidak memiliki teman sama sekali? Bahkan terkadang banyak orang yang menipu diri sendiri dangan membeli followers di toko-toko online yang menyediakan hal seperti itu. Bukankah ini sungguh buruk? Fakta bahwa ada orang yang menjual jasa penyedia followers udah cukup untuk membuat kita mengerti, bagaimana dunia menggiring kita untuk hidup dalam kepalsuan.

·      Sosial media membuat orang “terpaksa” harus memposting apa yang sebenarnya dia tidak miliki hanya demi mendapat validasi dari orang lain. Saya pernah membaca suatu informasi tentang jasa penyewaan Iphone, dimana mereka membuka jasa untuk menyewakan Iphone model terbaru kepada orang-orang tertentu yang ingin merasakan sensasi tampil di sosial media dengan menggunakan iphone namun tidak punya cukup uang untuk membelinya. Herannya, bisnis ini berhasil karena banyak orang Indonesia yang menggunakan jasa ini. Mereka menipu agar mendapat validasi dari orang lain, dan ini menjadi kepuasan bagi mereka (jangan kaget, saya juga pernah membaca bahwa ada jasa penyewaan pacar!)

·      Sosial media membuat orang terpaksa berbohong dengan memposting apa yang sebenarnya dia tidak rasakan demi dunia tahu bahwa dia sedang merasakan kesempurnaan hidup, tanpa problem kehidupan dan sedang baik-baik saja. Saya pernah melihat suatu gambar hasil karya Mice Cartoon yang menggambarkan kondisi demikian. Perhatikan gambar  di bawah ini

Sumber : Mice Cartoon, KOMPAS Minggu 1 Juni 2014: Di Balik Keceriaan Selfie

Dari gambar ini kita akan mengerti bahwa demi kepentingan media sosial, manusia rela menipu diri sendiri dan orang lain. Manusia hidup dalam kebahagiaan semu, tidak sesuai realita yang sedang dia alami.

·      Sosial media membuat orang terpaksa berbohong dengan berusaha sekuat tenaga untuk mengubah kenyataan dalam dirinya agar dunia memuji dia.  Banyak orang yang harus menipu dirinya sendiri dengan memposting foto dirinya yang telah dilapisi berbagai macam filter bawaan sosmed untuk mempercantik dirinya (memutihkan kulit, memuluskan wajah dsb). Banyak orang tidak berani tampil apa adanya karena takut ditolak oleh dunia. Ini adalah tindakan menipu diri sendiri dan orang lain, hanya demi mendapakan pujian dan itu membawa kepuasan bagi dirinya sendiri

Menjadi manusia palsu memiliki  banyak konsekuensi dan berbahaya, karena manusia akan melepas / membuang nilai yang paling penting dalam kehidupan, yaitu identitas diri.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang dapat menyerang identitas dan nilai diri kita sebagai orang Kristen. Untuk itulah nasihat Petrus kepada orang Kristen diaspora masih relevan sampai hari ini. Mengapa? Karena jika kita tidak mengenal siapa identitas diri kita, dan jika kita tidak tahu seberapa besar nilai diri kita, maka kita akan terpengaruh pada segala hal yang dipaparkan di atas. Kita tidak akan memiliki ciri khas sebagai orang Kristen, tidak kuat dalam iman dan keyakinan dan kita akan banyak menolerir hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Kristus, yang bertentangan dengan nilai diri kita sebagai umat pilihan Allah.

Sebagaimana orang Kristen diaspora di Asia Kecil telah dinasihati Petrus, kita pun dinasihati agar kita jangan sekali-kali melupakan bahkan kehilangan  identitas kita sebagai orang Kristen. Untuk bisa menjaga identitas kita, terlebih dahulu kita harus tahu mengenai :

·      Siapa kita?

·      Mengapa kita bisa memiliki identitas dan nilai tersebut?

·      Hal apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut?

·      Berapa dilai diri kita?

Maka jawabannya :

·      Siapa kita? Kita adalah orang berdosa yang tiada harganya, tiada nilainya karena segala dosa kita, namun telah dipilih Allah untuk mendapatkan identitas sebagai bangsa kepunyaan-Nya, umat pilihan-Nya sendiri

·      Mengapa kita bisa memiliki identitas dan nilai tersebut? Karena Allah telah memilih kita bukan karena jasa dan kebaikan kita, melainkan hanya oleh karena kasih karunia-Nya.

·      Hal apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut? Yang membuat kita bisa memiliki identitas dan nilai diri tersebut hanyalah penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib, dan pertolongan Roh Kudus yang menolong kita sehingga bisa beriman kepada Yesus Kristus.

·      Berapa nilai diri kita? Nilai diri kita senilai betapa mahalnya darah Yesus Kristus yang tak bercacat dan tak bercela, yang tak ternilai harganya, yang begitu mulia di hadapan Allah Bapa di Sorga.

Bagimana kita menjaga identitas dan nilai diri kita sebagai umat Allah?

1.    Tinggal dalam Kristus dan teguh beriman kepada-Nya. Jika kita berada di luar Kristus, maka kita tidak bisa apa-apa

Yoh. 15:5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kita tidak akan pernah kehilangan identitas kita jika kita berada dalam Kristus, karena melalui Dialah kita memperoleh identitas tersebut.

Yoh. 1:12  Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

Gal. 3:26  Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Gal. 4:5-7 : 5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6) Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Kita juga harus teguh dalam iman kepada Kristus. Merujuk kepada apa yang dikatakan oleh Francis Schaeffer : “I do what I think, I think what I believe” – Aku melakukan apa yang aku pikirkan, dan aku memikirkan apa yang aku percayai -. Apa yang kita lakukan bergantung apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan bergantung kepada apa yang kita percayai / Imani. Jika kita beriman kepada Kristus, maka kita akan berpikir mengenai Kristus. Jika kita berpikir mengenai Kristus, maka kita akan hidup berlaku sesuai Kristus.

2.    Tetaplah hidup dalam kesadaran penuh, bahwa diri kita ini bernilai karena darah Kristus.

1 Pet. 1:18-19 : 18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, 19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Jika kita hidup, mengerti, mengimani dan menghayati akan hal ini, maka kita tidak akan pernah membuang / melepaskan identitas kita sebagai umat pilihan Allah. Kita juga tidak akan merendahkan nilai diri kita, karena kita sadar betapa mahalnya kita di hadapan Allah : dibeli dengan darah Kristus yang mahal, yang tak bernoda dan tak bercacat.

3.    Tetap setia dan tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan, karena dalam Alkitab sajalah kita dapat menemukan jawaban dari : siapa kita, mengapa kita bisa bernilai, apa yang membuat kita bisa memiliki identitas dan bernilai serta bagaimana kita menjaga identitas tersebut. Kita tidak akan menemukannya di tempat lain, karena identitas kita berasal dari Allah dan hanya melalui Firman Allah sajalah kita dapat mengetahui hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga dan mempertahankan identitas kita sebagai orang Kristen. Firman Tuhan juga dapat menolong kita agar tidak terpengaruh akan segala sesuatu yang ditawarkan dunia ini, karena Firman Tuhan sajalah yang dapat memberikan petunjuk kepada kita bagaimana kita menjalani hidup, berpikir, mengambil keputusan dan bertindak sesuai kehendak Allah.

(Bukan hanya belajar Firman Tuhan, tetapi hendaknya kita mempertajam pikiran kita dengan belajar hal-hal yang menambah pengetahuan dan keahlian kita, agar otak kita tidak menjadi busuk dan menjadi bodoh; sebaliknya otak kita menjadi berkualitas; ada baiknya kita mengurangi screen time dengan membatasi penggunaan  sosial media dan gadget agar otak kita terbiasa untuk belajar dan kita tidak terjebak pada hal-hal pragmatis. Belajar sangat berguna bagi diri kita sendiri)

4.    Tekun berdoa, karena dalam doa kita berbincang dan memiliki relasi dengan Allah. Dalam doa, kita memohon pada Roh Kudus untuk menolong kita menjaga dan mempertahankan identitas Kristen kita. Dalam doa kita mendapatkan kekuatan untuk mempertahankan identitas kita di tengan gempuran dunia yang begitu kuat. Dalam doa kita juga mendapatkan kekuatan untuk tetap teguh hidup sesuai apa yang Tuhan kehendaki

5.    Tetaplah berada dalam komunitas umat Tuhan (baca: tetaplah beribadah), karena dalam ibadah dan dalam komunitas umat Tuhan yang sejati kita dapat saling mendoakan, menguatkan, mengingatkan dan menasihati sesuai isi Alkitab. Berada dalam komunitas umat Tuhan semakin menguatkan kita dan memperteguh identitas kita karena kita tidak sendirian menghadapi gempuran dunia; sebaliknya : kita bersama Tuhan dan sesama umat beriman menghadapi gempuran dunia. Berada dalam komunitas umat Tuhan dan beribadah juga dapat menolong kita untuk tidak terpengaruh kepada gaya hidup dunia yang jahat; sebaliknya dengan menjadikan ibadah dan bersekutu sebagai cara hidup kita, maka kita akan terluput dari gaya hidup yang jahat .

6.    Tetaplah hidup dengan kesadaran penuh akan identitas kita sebagai umat Allah, jangan hidup dalam kepalsuan identitas. Jika dunia menginginkan diri yang indah / cantik /sempurna menurut ukuran dan standarnya, maka hiduplah sesuai standar dan nilai-nilai Tuhan. Jangan menjadi sedih karena tidak mendapatkan apresiasi dari dunia karena kita tidak hidup sesuai penilaian dan standar dunia. Sebaliknya : berdukalah jika kita tidak hidup sesuai standar dan penilaian Tuhan; berdukalah jika kita kehilangan identitas kita sebagai umat Allah. Satu-satunya yang berhak menilai diri, pribadi dan identitas kita adalah Tuhan. Hiduplah autentik, asli, bernilai dan beridentitas.

Mengapa Allah mengaruniakan kepada kita identitas yang begitu berharga ini?

1.    Supaya kita taat.

1 Pet. 1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

Kita mendapatkan identitas ini bukan untuk menjadi liar dan bisa hidup seenaknya. Dengan adanya identitas sebagai bangsa pilihan Allah dan umat kepunyaan Allah, maka kita juga wajib taat kepada Allah sebagai Raja dan Tuhan kita. Lagipula kita harus sadar : hanya demi membuat kita layak menjadi  bangsa pilihan dan umat kepunyaan Allah, Yesus Kristus harus taat sampai mati. Dengan demikian, apakah alasan kita untuk tidak taat dan menjadi melawan? Tidak ada.

2.    Supaya kita menjadi saksi-Nya di dunia ini.

1 Pet. 2:9-10 : 9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib 10) kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Kis. 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Kita mendapatkan identitas ini bukan untuk bersantai-santai dan malas-malasan. Sebagai bangsa pilihan Allah dan umat kepunyaan Allah, kita harus berguna bagi Kerajaan Allah itu sendiri : kita wajib menjadi saksi-saksi Kristus yang memberitakan Injil dan memberitakan kepada dunia pekerjaan-pekerjaan ajaib Tuhan yang telah membebaskan kita dari dosa dan maut. Semua pekerjaan yang berasal dari Kerajaan Allah adalah bagian kita dan kita wajib untuk mengerjakannya.

Untuk bisa mendapatkan identitas  ini, Tuhan Yesus harus menderita bahkan taat sampai mati. Ini membuktikan betapa pentingnya identitas kita di mata Tuhan. Melihat fakta bahwa begitu mahalnya darah Tuhan Yesus yang tercurah, membuktikan bahwa begitu berharganya nilai diri kita di mata Tuhan. Renungkanlah bahwa Tuhan mau melakukan ini semua semata hanya karena Dia begitu mengasihi kita. Karena itu hendaklah kita merenungkan akan diri kita, keberadaan kita, nilai diri kita dan arti hidup kita. Jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa dirimu tidak berharga sehingga mau menjual diri atau mencoba bunuh diri, maka renungkanlah : walau dunia memandangmu rendah, tetapi di mata Tuhan nilai dirimu tiada taranya oleh karena engkau dibeli dengan darah Yesus yang mahal; Jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa penilaian dunia begitu berat sehingga engkau tidak sanggup memenuhinya, maka renungkanlah : walau dunia menilaimu begitu berat sehingga engkau terluka, Tuhan justru memulihkan identitasmu dan nilai dirimu sehingga berharga di mata-Nya dengan pengorbanan-Nya yang besar; jika saat ini ada diantara para pembaca yang merasa bahwa dunia menolakmu karena tidak sesuai dengan standarnya, maka renungkanlah : Tuhan menerimamu apa adanya dan mau memulihkanmu. Dia mengasihimu bukan karena engkau baik, tetapi sejak engkau masih kotor, berdosa dan berseteru dengan-Nya.

Hargailah pengorbanan Tuhan, hargailah anugerah Tuhan dalam diri kita. Miliki dan hiduplah sesuai identitas diri kita : bangsa yang terpilih, dikuduskan, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Jadilah bernilai dan berharga sesuai harga yang telah telah dibayarkan bagi kita : darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang tak bercacat.

Terpujilah Allah Tritunggal!

Amin

(renungan ini saya kembangkan dari intisari khotbah Pdt. Sutjipto Subeno pada Mimbar Reformed Injili Indonesia di Kupang, Minggu 8 Maret 2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar